Thursday, 16 April 2015



Wisuda tak seindah yang orang bayangkan. Menurut saya itu sangat membosankan. Tidak ada dosen yang mengajar di depan kelas, tidak ada kegiatan tulis menulis, apalagi mendengarkan. Otak kita tidak bekerja, hanya diam dan menunggu. Sangat membosankan…

Sesaat setelah wisuda saya mulai berfikir apa itu arti hidup? Pertanyaan yang hingga saat ini belum dapat saya temukan jawabannya. Ada yang mengartikan hidup itu tinggal bersama orang yang kita sayang, ada pula yang mengatakan hidup itu menikmati secangkir kopi sembari berbincang bersama kawan, di sisi lain ada yang mengatakan bahwa hidup itu pilihan, hidup itu perjuangan, hidup itu mendapatkan apa yang kita inginkan, hidup itu saling tolong menolong, dll. Saya setuju dengan semua kata orang tentang hidup, dan itu benar. Setiap orang mengartikan kata hidup berbeda-beda  berdasar dari mana dia berasal, dari apa yang dia alami, apa yang dia pelajari hingga dia menjadi sesuatu.

Namun bagi saya hidup itu tidak mati, tidak mati berfikir, tidak mati beraksi, tidak mati menciptakan ide baru, dan tidak berdiam diri.

Memang tidak mudah untuk menentukan arah hidup. Kita harus mencoba sesuatu yang baru, berkumpul dengan komunitas baru, belajar berbagai ilmu yang baru untuk menghasilkan sesutu yang baru dan bermanfaat.
Kita harus tetap bergerak walaupun hanya sejengkal. Pohon sebesar apapun akan tetap tumbang dengan kegigihan yang kita miliki, tembok sebesar apapun akan runtuh dengan semangat yang kita punya dan lautan sebesar dan sedalam apapun dapat kita belah dengan tekat dan bakat yang kita miliki.

235 kata di atas adalah awal dari kebosanan saya karena terus berdiam diri dan tidak menghasilkan apapun.

Friday, 20 September 2013

“ setengah penganggur tidak kentara”




Dua pekerjaan mulia adalah pendidik dan entertains bahkan dapat dikatakan sangat mulia. Apa jadinya dunia ini tanpa seorang guru atau pendidik, apa jadinya dunia ini tanpa ada nya hiburan dari seorang entertains. Akhirnya bukti dari kemulian guru dan seniman pun kapten dapati secara nyata. 

Kamis, 19 September 2013. Kapten mengikuti suatu talk show yang di moderatori Andy F. Noya, yang terkenal dengan acaranya Kick Andy. Tema yang diangkat adalah “ Kisah Inspiratif dari Guru untuk Guru”. Sungguh sangat menggugah selera mendengar topic pada talk show kali ini. Ratusan Guru di Kabupaten Banyumas berbondong-bondong antusias datang dan berpartisipasi dalam talk show tersebut.Om Andy sebagai moderator pandai untuk membuat suasana menjadi hangat, apalagi setelah bintang tamu pertama di datangkan. Beliau adalah seorang pensiunan guru matematika di SMP 1 Parakan, Ibu Ian panggilan akrabnya. Beliau lahir dari orang tua yang tidak mampu. Untuk menempuh pendidikan hingga Sekolah Menengah Pertama, Ibu Ian mencari majikan untuk memperkejakannya sebagai pembantu dan menyekolahkannya sebagai imbalannya. Sungguh usaha yang sangat, hanya untuk mendapatkan bangku pendidikan yang di impi-impikan. Coba lihat diri kita, kita yang serba berkecukupan, orangtua kita mampu mebiayai kita bersekolah namun untuk menjalainnya kita banyak mengeluh. Sesekali melihatlah kebawah, jangan hanya melihat ke atas, karena tidak akan ada habis batas pandang ke atas. 

Beliau berhasil menempuh pendidikan 12 tahun, dengan usaha dan kerja kerasnya yang sulit untuk kita tiru apalagi lakukan. Bahkan yang paling menarik, ternyata beliau pun mencoba untuk melangkahkan kaki kejenjang universitas. Ibu Ian di terima di Universitas Gajah Mada (UGM), namun karena masalah biaya administrasi yang tidak dapat dilunasi beliau dengan sangat menyesal melepaskan kesempatan tersebut dan memutuskan untuk mengabdikan diri sebgai Pahlawan tanpa tanda jasa. Yang lebih dan sangat mengagumkan lagi, di usianya yang sudah tidak muda lagi juga hidup hanya dari uang pensiuan guru, beliau mengasuh 24 anak yang kurang mampu untuk dibiayai sekolah. Sungguh mulia apa yang beliau lakukan untuk menyelamatkan generasi muda dari lubang hitam tanpa pendidikan. Dengan berbekal Ilmu Matematik yang Ibu Ian kuasai, ke 24 anak asuhnya berhasil menempuh pendidikan sampai bangku Universitas dengan biaya dari Pemerintah (Beasiswa). Selain mengasuh anak, beliau pun membuka Puskesmas Matematika dirumahnya yang hanya mengontrak. Puskemas Matematika di tujukan bagi siswa-siswi yang susah untuk memahami ilmu tersebut, dan Ibu Ian menyebutnya sebagai penyakit. Dengan rumah yang sangat sederhana, namun beratus-ratus anak didiknya selalu memenuhi harinya untuk menyalurkan ilmu yang beliau kuasai. Sangat mulia, sangat tulus, apa yang telah beliau lakukan. Dan hasilnya semua anak asuhnya menjadi generasi muda yang berpotensi untuk menjadi seorang pemimpin. Bahkan salah satu dari mereka ada yang sedang menempuh pendidikan S3 di Belanda dengan jalur beasiswa tentunya. 

Perlu kalian ketahui, bahwa dari beratus-ratus pasien beliau yang mampu untuk membayar hanya segelintir anak saja. Apakah anda masih setuju dengan judul tulisan ini yang mengatakan bahwa guru adalah “ setengah penganggur tidak tentara”. 

Nara sumber yang keduapun tidak kalah menyentuh. Ibu Irma namanya, dia adalah seorang penyandang cacat yang dapat mensejahterakan orang-orang cacat di Indonesia dengan keterampilan yang dia miliki. Ibu Irma menderita penyakit Polio saat berumur 4 tahun, dan dia pun tidak dapat berjalan dengan sempurna sampai saat ini. Namun dengan ketekunannya bersama sang suami, dia berhasil mengubah dunianya. Dengan usaha yang dia kerjakan sebagai pengrajin keset, saat ini dia sudah mempunyai berpuluh – puluh ribu rekan kerja di seluruh pelosok Negri. Dan semua rekan yang dia miliki adalah hasil didikian Ibu Irma. Ibu Irma mengajarkan keterampilan pada orang-orang penyandang cacat. Tidak hanya orang cacat yang dia rekrut di dunia bisnisnya, namun psk dan waria pun dia mau untuk mengajarkan keterampilannya. Dia bukan seorang yang bodoh, Ibu Irma adalah orang yang jenius dan berhati mulia. Perlu kita ketahui beliau berhasil menyelesaikan pendidikan hingga bangku Sekolah Menengah Atas. Bahkan, yang tidak kalah mengagumkan dia berhasil lolos tes masuk universitas tepatnya di Universitas Gajah Mada. Namun, karena biaya lagi dan lagi hanya penyesalan yang dia dapatkan. Dari penyesalan inilah Ibu Irma berinisiatif untuk membuka lapangan kerja, karena tidak ada perusahan yang mau untuk menerimanya bekerja dengan keadaannya yang kurang sempurna itu. “Don’t judge the book just from the cover”, inilah kelemahan negeri kita. Banyak orang yang mengatakan bahwa terpuruknya negeri kita di akari oleh sumber daya manusia yang kurang berkualitas. Apakah Ibu Irma tidak berkualitas?. Justru orang-orang yang memandang sebelah mata orang cacat adalah orang yang sangat tidak berkualitas. 

Kita sering berucap “Negara yang besar adalah Negara yang menghargai jasa para pahlawan nya”. Sudah seperti itukah Indonesia kita???

Jangan tanyakan apa yang Negara telah berikan kepada kita! Tanyakanlah pada diri kita, apa yang sudah kita berikan untuk Negara kita tercinta!!!!

Friday, 19 July 2013

Semarang Ndess

Bukan Semarang kalau kita belum duduk dan menikmati segelas kopi di Simpang Lima. Namun ternyata ada tempat lain yang lebih memukau bahkan sangat. Entah umurnya sudah berapa abad namun tempat itu masih dijaga dan dirawat sehingga enak untuk dipandang. Orang-orang memanggilnya kota tua, suatu daerah cagar budaya di Semarang yang di mana masih berdiri dengan gagah bangunan-bangunan tinggalan Belanda. Dari Gereja Putih, berbagai-bagai bangunan Bank yang masih digunakan, hingga bangunan-bangunan lain yang telah tak berpenghuni. Sungguh memukau pemandangan disalah satu sudut di Kota yang merupakan Ibu kota Jawa Tengah. Di mana jalannya pun belum beraspal, iaitu masih menggunakan paving-paving yang masih terlihat rapi.

Di sisi lain yang membuat prihatin adalah adanya satu bagian dari Kota Tua itu yang digunakan para Pekerja Sex Komersial untuk menjajakan dagangannya. Sangat disayangkan makhluk Tuhan yang sesempurna wanita yang mencari nafkah dengan cara menjual Mahkota Berharga yang mereka miliki. Namun juga tidak dapat sepenuhnya kita menyalahkan mereka yang butuh wang untuk melangsungkan hidupnya. Indonesia memang negara yang berpenduduk sangat-sangat berkebalikan dengan lapangan kerja yang ada. Yang mereka tahu Tuhan sayang umatnya.

Di sudut lain Kota Semarang juga bisa kita temui Pecinan Semarang. Iaitu suatu wilayah yang berpenghuni warga Indonesia keturunan China. Daerah yang hampir sama seperti Kota Tua namun bangunannya bernuansa China. Lengkap dengan segala aksesorisnya, furniture, makanan, minuman, dan yang pasti ice cream yang sangat menggoda. Bagi kaum kaula muda yang ingin menghabiskan malam bersama kekasihnya dengan view pemandangan Kota Semarang bisa mengunjungi Turunan Gombel. Di tempat itu telah disediakan tempat di mana kita dapat menikmati indahnya Semarang di malam hari dengan beribu-ribu lampu yang sangat memukau.

Dan yang tidak mungkin kalian tidak ketahui iaitu Lawang Sewu. Bangunan tua yang berdiri di tengah Kota yang memiliki seribu pintu. Sungguh sangat memukau bangunan tersebut untuk dipandang pada malam hari. Tidak jauh dari Lawang Sewu juga ada Tugu Pahlawan. Sembari menikmati semangkuk wedang ronde duduk di sekitar Tugu Pahlawan dan sekaligus dapat melihat view Lawang Sewu.

Kata orang belum sah ke Semarang kalu belum menikmati Lumpia khas Semarang. Makanan lain yang tidak kalah enak iaitu Tahu Bakso, Wingko, dan juga Bandeng Presto. Semarang Ndess !!!!!!







Lawang Sewu

Tugu Pahlawan

Turunan Nggombel



White Church

Wednesday, 19 June 2013

Gundah Gulana

Nelangsa memang rasanya kalau kudu mengerti bahwa di mana ada awal pasti ada akhirnya. Itulah yang sedang Sang kapten alami saat ini. Satu setengah tahun telah berlalu. Teringat di saat pertama kali kita ber sebelas datang ke negeri jiran Malaysia untuk mengenyam bangku kuliah. Namun sayang salah satu dari kami harus kembali ke tanah air karena penyakit yang di deritanya. Bersepuluh kita melewati 3 semester dengan kebersamaan bagai keluarga. Susah, senang, sedih, bahagia kita rasakan bersama. Entah Kapten harus merasa sedih, senang, atau bingung. Mungkin ini yang dinamakan nano-nano rame rasanya. Mengingat kita semua telah selesai menjalani pendidikan di rantau, walopun harus ada dua dari teman kami yang masih harus berjuang satu semester lagi.

Shock culture, itu mungkin yang kami rasakan saat pertama kali menajajakan hidup yang jauh dari orangtua. Teringat ukuran celana ku yang 34 menjadi 30, style rambutku dari yang kribo, aku papas pendek kaya anak SMP, sempet jar head pula, dan sekarang kembali kribo lagi. Dari yang ga bisa masak nasi sampe ketagihan, dari yang mulus tanpa bulu jadi berewokan, dari yang ga jomblo jadi jomblo laknat, dari yang mainstream jadi anti mainstream, dan tentunya dari yang anti blogg jadi demen ngeblogg. Hehe

University Utara Malaysia(UUM), tempat di mana Sang kapten mendapat pendidikan yang sangat berharga. Tidak Cuma dari pendidikan formal tetapi juga informal. Berawal dari orientasi International, saat di mana aku pertama kalinya bisa berkumpul dengan mahasiswa/mahasiswi dari seluruh penjuru dunia. Dan saat pertama di mana Kapten menyadari betapa pentingnya kemampuan berbahasa Inggris di kancah international. Ringgit adalah mata wang yang Kapten gunakan untuk melangsungkan hidup sehari-hari. Malaysia negri yang sangat berkembang, dari sistem pendidikan, fasilitas pendidikan, pembangunan, yang bisa semuanya dibilang oke. Orang-orangnya pun ramah dan sangat antusias tentang semua yang berbau Indonesia khususnya BUDAYA.

Tanggal 18 Juni 2013, di mana hari terakhir Kapten mengenakan Formal uniform sebagai dress code dari UUM. Kapten pun mengucap sukur untuk semua yang telah di lalui dengan tidak mudah dan butuh perjuangan yang keras tentunya. Sang kapten yakin semuanya akan berjalan mulus sesuai rencana Tuhan dan Kapten akan lulus tepat waktu pastinya untuk wisuda degree ku tahun ini. Amin

DPP TM 7E 116 adalah tempat yang pantang untuk di lupakan. Tempat di mana Kapten beristirahat,  belajar, tempat berbagi cerita kehidupan dengan roomate, dan tempat di mana Sang kapten exercise juga. Hehe

Di sini , di University Utara Malaysia sang kapten mendapatkan teman-teman yang bisa dibilang keluarga. Berada dalam satu naungan Persatuan Pelajar UUM dan juga Persatuan Pelajar Malaysia kami belajar untuk berorganisasi. Kami membuat berbagai acara yang mempertemukan seluruh mahasiswa Indonesia di Malaysia. Dari acara olahraga, seni, seminar, dan berbagai acara lain yang sukar untuk dilupakan. Sang kapten tidak menyangka bisa mengenal orang-orang penting seperti duta besar Indonesia yang ada di Malaysia yaitu para pejabat dari Kedutaan Besar Republik Indonesia  (KBRI) dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI).

Rasa bahagia kami rasakan ketika kami dapat menyelesaikan apa yang telah diamanatkan oleh Pendidikan Tinggi Indonesia (DIKTI) yang telah memberikan Beasiswa Unggulan kepada kami yang tidak semua mahasiswa bisa mendapatkannya. Namun kesedihan harus kami alami  ketika harus rela meninggalkan tempat di mana kenangan yang tak terlupakan dibuat. Terlebih sebuah video perpisahan dari junior kami yang menyentuh membuat kesedihan tidak bisa terbendungkan.

From my point of view, going abroad is necessarily if we want become a better person in term of education, knowledge, language, cross culture, and experiences.

Good bye UUM, I’ll miss you so much.

Friday, 31 May 2013

tiang Agama

Siksaan meninggalkan Sholat:


  • Subuh akan di siksa di neraka selama 60,000 tahun waktu di dunia
  • Zuhur akan menerima dosa layaknya membunuh 1,000 orang
  • Asar akan menerima dosa layaknya merobohkan Kaabah
  • Maghrib akan menerima dosa sama seperti kita meniduri ibu kita sendiri
  • Isa tidak mendapatkan ridho Alloh selama hidup di bumi, dan tidak mendapatkan nikmat Alloh dalam makan dan minum.

              Setelah cukup lama tidak pergi ke Surau, tulisan di atas Kapten temukan dalam mading yang tertempel di dalam Surau asrama.


Berapa banyak sholat yang sudah kita tinggalkan?

Thursday, 30 May 2013

aku

Kali ini aku hadir dalam sosok Aku. Namun tetap didampingi oleh secangkir kopi pendongkrak imajinasi. Jarum jam tetap tak mau menunggu, baru Aku tinggal sebentar mengambil air untuk membuat kopi 15 menit pun berlalu. Baru saja Aku selesai menonton film lama yang di Sutradai oleh Rudy Soedjarwo dan di produseri oleh Riri Riza & Mira Lesmana. Kedua produser tersebut juga orang yang sama yang memproduseri film anak-anak “Petualangan Sherina”. Setelah membuat film anak-anak mereka pun memutuskan untuk mebuat film untuk remaja sebagai wujud refleksi kehidupan remaja pada saat itu. Film yang di bintangi oleh artis muda berbakat  juga cantik yaitu Dian Sastrowardoyo sebagai pemeran utama wanita dan Nicolas Saputra sebagai tokoh utama pria. Sekarang kalian sudah bisa menebak film apa yang aku maksud bukan?

“Ada Apa Dengan Cinta “ (AADC).

Bisa diakatakan berhasil film ini menyihir setiap orang yang menontonnya kedalam cerita kehidupan remaja saat itu. Bahkan bukan hanya kalangan remaja saja yang tergiur untuk menikmati film tersebut, aku yang pada waktu itu masih dibawah umur pun sangat tertarik untuk menontonnya. Akhirnya hari ini Aku bisa menonton film tersebut secara keseluruhan, karena sebelumnnya aku hanya suka menonton satu bagian dalam film itu. Yaitu ketika Cinta menyayikan puisi buatan Rangga di dalam cafe. Dan setelah menontonnya secara keseluruhan membuat aku tertarik untuk mengulas cerita yang terkandung didalamnya pada tulisan ini.

Tentang Seseorang

Aku lari ke hutan, kemudian menyanyiku
Aku lari ke pantai, kemudian teriakku
Sepi-sepi dan sendiri
Aku benci

Aku ingin bingar,
Aku mau di pasar Bosan
Aku dengan penat,Dan enyah saja kau pekat
seperti berjelaga jika Ku sendiri

Pecahkan saja gelasnya biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh,
Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih,
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya, biar terdera

Atau aku harus lari ke hutan belok ke pantai?

bosan aku dengan penat
dan enyah saja kau pekat
seperti berjelaga jika kusendiri

Kenapa? Karena aku melihat kehidupan yang aku cintai dalam film tersebut yaitu Karya Sastra. Tergambar jelas dalam sosok Rangga dan Cinta yang suka akan kata puitis yang terlantun dalam bait puisi. Begitu juga dengan Aku. Saat masih berbalutkan putih biru, aku gemar membaca karya-karya Khalil Gibran. Akibat dari membaca karya-karya beliau akupun terdorong untuk membuat kata puitis yang membuat orang geli saat membacannya. Pantas saja, karena tidak semua orang menyukai sastra. Sebenarnya akupun tidak berniat untuk memamerkan kata-kata najis yang ku buat kepada teman-teman. Namun karena aku menyimpannya dalam Nokia 3315 milikku, akhirnya ketika tangan-tangan jail menyentuhnya kata-kata najis itupun berceceran dimana-mana. Awalnya si malu, tapi masa iya kita akan terus hidup dalam rasa malu. Yang penting jangan malu untuk mengakui kesalahan dan keunggulan lawan.

Sedikit bercerita tentang pacar pertamaku. Dia adalah sosok wanita yang tidak suka dengan kata-kata puitis. Setiap aku kasih dia kata-kata najis yang aku buat, dia selalu protes. Namanya juga cinta monyet kali, aku pacaran dengan cewe yang bertolak belakang denganku akan pandangan terhadap sastra khususnya puisi. Kadang membuatku tertawa kala mengingat masa-masa itu, dimana aku sering mengirimi dia puisi melalui sms atau memberi dia karangan Khalil Gibran. Hehehehe

Mungkin sosok Cinta dalam film AADC adalah cewe yang aku idam-idamin kali ya. Cewe yang suka puisi, suka nyanyi,dan juga suka nulis. Pokoknya aku demen sesemua yang berbau sastra, apalagi cewe yang ber parfum sastra. Pergaulan yang bergerombol dalam film itu pun related banget sama kehidupan remaja saat ini, khususnya cewe-cewe yang bergerombol atau nge-geng. Tentunya sangat menarik ketika salah satu dari gerombolan itu memendam rasa suka kepada lawan jenis. Akan timbul pertengkaran dalam batinnya antara sahabat dan cinta. Karena, faktanya dalam suatu geng akan mempengaruhi satu sama lain khusunya dalam masalah bercinta dan mengambil suatu keputusan saat ada masalah tentang hubungan pacaran. Yang membuat aku suka dalam film itu, walaupun Cinta yang berperan sebagai tokoh utama akhirnya mendapat dukungan dari sahabatnya untuk mendapatkan cinta yang ada dalam diri Cinta. Mereka saling mendukung satu sama lain dan bukan saling mempengaruhi dengan pikiran yang tak sejalan dengan hati Cinta. Mungkin aku tipe orang yang suka terbawa akan cerita khayal dalam film romantic. Lalu bagaimana tanggapan kalian dengan film AADC ini? Apakah sejalan dengan pikiranku? Aku yakin tidak. Hehe

Ini satu scene yang aku suka, yaitu sesaat setelah Cinta menemui Rangga di Bandara sebelum keberangkatannya ke New York dan Rangga memberikan satu puisi yang ditulis dalam buku hariannya di lembar terakhir. Begini puisinya....

Perempuan
Perempuan datang atas nama cinta, bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti Bulan lelap tidur di hatimu, yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya?
Meninggalkan hati untuk dicaci
Lalu sekali ini aku lihat karya surga dari mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta
Tapi aku pasti akan kembali dalam satu purnama
untuk mempertanyakan lagi cintanya
Bukan untuknya, bukan untuk siapa . .
Tapi untuk ku..
Karna aku ingin kamu
Itu saja..

Mungkin tidak semua cewe akan luluh saat pasangan mereka menuliskan sebuah puisi seperti yang dilakukan Rangga. Namun bukankah puisi bisa dikatakan sebagai hadiah buatan sendiri, bukankah banyak orang berkata bahwa suatu hadiah akan lebih bermakna apabila dibuat dari hasil karya sendiri. Itu si pandangan ku, entah dengan yang lain. #grin

Inilah sosok Aku......

Aku tipe orang yang menganggap lebih tentang karya sastra, mungkin karena aku terlahir dari rahim seorang Ibu yang mencari rezeki dari sastra. Selain sosok Cinta dalam film AADC Aku juga menyukai Sosok Kugi dalam film Perhau Kertas, karena selain parasnya yang cantik kedua-dua sosok tersebut ber parfum sastra pula. Dan aku adalah sosok Olip dalam film Jomblo yang ketika menyukai seorang wanita hanya bisa diam dan susah untuk bergerak maju. Tentunya hanya bisa stalking tentang si doi setiap hari dan tidak kalah juga mengumpulkan foto-foto si doi untuk di pandangi. Namun aku tidak berakhirnya seperti Olip yang tidak bisa mendapatkan Astri yang lebih melilih Doni untuk dijadikan pasangan karena alasan yang memaksannya(tentunya kalian thau kenapa akhirnya Astri lebih memilih Doni). Dan saat ini pun aku telah mengagumi seorang wanita yang hingga saat ini belum ada keberanian untuk mendekatinnya secara serius.Kekaguman ini aku mulai bersamaan dengan pertama kali aku menulis blog, ya bisa dibilang si Dia yang menggugah Ku untuk menulis. Hehehe

Selama ini aku salah berfikir tentang seorang blogger. Sebelumnya aku menganggap seorang blogger layaknya wanita yang suka menulis diary. Namun aku harus menelan ludahku sendiri, karena saat ini aku pun terjun dalam dunia itu. Mungkin ini yang akan membawa ku menjadi Seniman Berbasis Menejemen. Hahaha


Menulislah!!! sebelum menulis itu dilarang!!

Saturday, 25 May 2013

Failures made by me


Seminggu yang lalu tepatnya tanggal 17-19 Mei 2013 Kapten semut mengikuti acara tahunan yang diadakan oleh Persatuan Pelajar Indonesia Malaysia (PPIM). Acara ini dinamakan Pekan Olahraga dan Seni Pelajar Indonesia di Malaysia (POSPIM) yang diadakan di University of Malaya. Dalam acara tersebut Kapten ikut berpartisipasi di cabang olahraga untuk mewakili kampusnya(ants university). Ants university mengirimkan 38 peserta dalam ajang POSPIM 2013, yang terbagi dalam 2 cabang seni dan 3 cabang olahraga. Finally, Ants university mengantongi satu medali dari cabang seni dengan nominasi sebagai juara pertama.

Mengapa hanya satu mendali yang kami dapatkan?

Tari Saman UUM
Dalam hal ini kami akhirnya kembali menyadari bahwa kegagalan adalah kita sendiri yang membuatnya. Berbagai alasan timbul sejalan dengan kekalahan yang kami terima, namun itu tidak akan merubah keadaan. Yang harus kita lakukan adalah bukan untuk menyesalinya, tapi bagaimana kita harus mengkoreksi diri kita bagaimana kekalahan itu datang. Kurangnya persiapan dan koordinasi dalam tiap cabang yang kita ikuti adalah kesalahan fatal yang harus diperbaiki. Contohnya cabang badminton yang Kapten ikuti. Untuk pertama kalinya dalam hidup Kapten dia mengikuti Badminton competition dalam kategori single. Dari awal Kapten sudah menyadari bahwa single bukanlah spesialisasinya, namun dia tetap bersedia untuk menjajalnya tanpa ada persiapan yang matang. Di setiap sesi latihan Kapten selalu berlatih untuk bermain double, di sinilah letak kesalahan yang akhirnya menyebabkan Kapten berhenti di semifinal dan tidak dapat masuk final apalagi mendapatkan medali. Mungkin ini terjadi pula dalam cabang lain yang kami ikuti.

Pengalaman memang menjadi guru yang paling berharga atau bisa juga kita sebut sebagai investasi yang akan membawa dampak positive untuk ke depannya. Maka dari itu setiap kalian memutuskan untuk terjun dalam bidang apa pun yang telah kalian putuskan lakukanlah yang terbaik, persiapkan semuanya secara matang, dan buat orang di sekitar kalian bangga. Faktanya orang tidak akan melihat proses yang kita lakukan dalam mencapai tujuan yang kita, mereka hanya akan memuji dan mengacungi jempol dengan apa yang telah kita raih (sukses).

tutup mata kalian!tutup telinga kalian!busungkan dada!tengadahkan kepala!buat kesimpulan!aplikasikan!hancurkan tembok yang menghadang!

Good morning and have a nice Sunday.