Wisuda tak seindah yang orang
bayangkan. Menurut saya itu sangat membosankan. Tidak ada dosen yang mengajar
di depan kelas, tidak ada kegiatan tulis menulis, apalagi mendengarkan. Otak kita
tidak bekerja, hanya diam dan menunggu. Sangat membosankan…
Sesaat setelah wisuda saya mulai
berfikir apa itu arti hidup? Pertanyaan yang hingga saat ini belum dapat saya
temukan jawabannya. Ada yang mengartikan hidup itu tinggal bersama orang yang
kita sayang, ada pula yang mengatakan hidup itu menikmati secangkir kopi
sembari berbincang bersama kawan, di sisi lain ada yang mengatakan bahwa hidup
itu pilihan, hidup itu perjuangan, hidup itu mendapatkan apa yang kita
inginkan, hidup itu saling tolong menolong, dll. Saya setuju dengan semua
kata orang tentang hidup, dan itu benar. Setiap orang mengartikan kata hidup
berbeda-bedaberdasar dari mana dia
berasal, dari apa yang dia alami, apa yang dia pelajari hingga dia menjadi
sesuatu.
Namun bagi saya hidup itu tidak mati,
tidak mati berfikir, tidak mati beraksi, tidak mati menciptakan ide baru, dan
tidak berdiam diri.
Memang tidak mudah untuk menentukan
arah hidup. Kita harus mencoba sesuatu yang baru, berkumpul dengan komunitas
baru, belajar berbagai ilmu yang baru untuk menghasilkan sesutu yang baru dan
bermanfaat.
Kita harus tetap bergerak walaupun
hanya sejengkal. Pohon sebesar apapun akan tetap tumbang dengan kegigihan yang
kita miliki, tembok sebesar apapun akan runtuh dengan semangat yang kita punya
dan lautan sebesar dan sedalam apapun dapat kita belah dengan tekat dan bakat
yang kita miliki.
235 kata di atas adalah awal dari
kebosanan saya karena terus berdiam diri dan tidak menghasilkan apapun.
Dua pekerjaan mulia adalah pendidik dan
entertains bahkan dapat dikatakan sangat mulia. Apa jadinya dunia ini tanpa
seorang guru atau pendidik, apa jadinya dunia ini tanpa ada nya hiburan dari
seorang entertains. Akhirnya bukti dari kemulian guru dan seniman pun kapten
dapati secara nyata.
Kamis, 19 September 2013. Kapten
mengikuti suatu talk show yang di moderatori Andy F. Noya, yang terkenal dengan
acaranya Kick Andy. Tema yang diangkat adalah “ Kisah Inspiratif dari Guru
untuk Guru”. Sungguh sangat menggugah selera mendengar topic pada talk show
kali ini. Ratusan Guru di Kabupaten Banyumas berbondong-bondong antusias datang
dan berpartisipasi dalam talk show tersebut.Om Andy sebagai moderator pandai
untuk membuat suasana menjadi hangat, apalagi setelah bintang tamu pertama di
datangkan. Beliau adalah seorang pensiunan guru matematika di SMP 1 Parakan,
Ibu Ian panggilan akrabnya. Beliau lahir dari orang tua yang tidak mampu. Untuk
menempuh pendidikan hingga Sekolah Menengah Pertama, Ibu Ian mencari majikan
untuk memperkejakannya sebagai pembantu dan menyekolahkannya sebagai
imbalannya. Sungguh usaha yang sangat, hanya untuk mendapatkan bangku
pendidikan yang di impi-impikan. Coba lihat diri kita, kita yang serba
berkecukupan, orangtua kita mampu mebiayai kita bersekolah namun untuk
menjalainnya kita banyak mengeluh. Sesekali melihatlah kebawah, jangan hanya
melihat ke atas, karena tidak akan ada habis batas pandang ke atas.
Beliau berhasil menempuh pendidikan 12
tahun, dengan usaha dan kerja kerasnya yang sulit untuk kita tiru apalagi
lakukan. Bahkan yang paling menarik, ternyata beliau pun mencoba untuk
melangkahkan kaki kejenjang universitas. Ibu Ian di terima di Universitas Gajah
Mada (UGM), namun karena masalah biaya administrasi yang tidak dapat dilunasi
beliau dengan sangat menyesal melepaskan kesempatan tersebut dan memutuskan untuk
mengabdikan diri sebgai Pahlawan tanpa tanda jasa. Yang lebih dan sangat
mengagumkan lagi, di usianya yang sudah tidak muda lagi juga hidup hanya dari
uang pensiuan guru, beliau mengasuh 24 anak yang kurang mampu untuk dibiayai
sekolah. Sungguh mulia apa yang beliau lakukan untuk menyelamatkan generasi
muda dari lubang hitam tanpa pendidikan. Dengan berbekal Ilmu Matematik yang
Ibu Ian kuasai, ke 24 anak asuhnya berhasil menempuh pendidikan sampai
bangku Universitas dengan biaya dari Pemerintah (Beasiswa). Selain mengasuh
anak, beliau pun membuka Puskesmas Matematika dirumahnya yang hanya mengontrak.
Puskemas Matematika di tujukan bagi siswa-siswi yang susah untuk memahami ilmu
tersebut, dan Ibu Ian menyebutnya sebagai penyakit. Dengan rumah yang sangat sederhana, namun beratus-ratus anak didiknya
selalu memenuhi harinya untuk menyalurkan ilmu yang beliau kuasai. Sangat mulia,
sangat tulus, apa yang telah beliau lakukan. Dan hasilnya semua anak asuhnya
menjadi generasi muda yang berpotensi untuk menjadi seorang pemimpin. Bahkan salah
satu dari mereka ada yang sedang menempuh pendidikan S3 di Belanda dengan
jalur beasiswa tentunya.
Perlu kalian ketahui, bahwa dari beratus-ratus
pasien beliau yang mampu untuk membayar hanya segelintir anak saja. Apakah anda
masih setuju dengan judul tulisan ini yang mengatakan bahwa guru adalah “
setengah penganggur tidak tentara”.
Nara sumber yang keduapun tidak kalah
menyentuh. Ibu Irma namanya, dia adalah seorang penyandang cacat yang dapat
mensejahterakan orang-orang cacat di Indonesia dengan keterampilan yang dia
miliki. Ibu Irma menderita penyakit Polio saat berumur 4 tahun, dan dia pun
tidak dapat berjalan dengan sempurna sampai saat ini. Namun dengan ketekunannya
bersama sang suami, dia berhasil mengubah dunianya. Dengan usaha yang dia
kerjakan sebagai pengrajin keset, saat ini dia sudah mempunyai berpuluh – puluh
ribu rekan kerja di seluruh pelosok Negri. Dan semua rekan yang dia miliki
adalah hasil didikian Ibu Irma. Ibu Irma mengajarkan keterampilan pada
orang-orang penyandang cacat. Tidak hanya orang cacat yang dia rekrut di dunia
bisnisnya, namun psk dan waria pun dia mau untuk mengajarkan keterampilannya. Dia
bukan seorang yang bodoh, Ibu Irma adalah orang yang jenius dan berhati mulia. Perlu
kita ketahui beliau berhasil menyelesaikan pendidikan hingga bangku Sekolah
Menengah Atas. Bahkan, yang tidak kalah mengagumkan dia berhasil lolos tes
masuk universitas tepatnya di Universitas Gajah Mada. Namun, karena biaya lagi
dan lagi hanya penyesalan yang dia dapatkan. Dari penyesalan inilah Ibu Irma
berinisiatif untuk membuka lapangan kerja, karena tidak ada perusahan yang mau
untuk menerimanya bekerja dengan keadaannya yang kurang sempurna itu. “Don’t
judge the book just from the cover”, inilah kelemahan negeri kita. Banyak orang
yang mengatakan bahwa terpuruknya negeri kita di akari oleh sumber daya manusia
yang kurang berkualitas. Apakah Ibu Irma tidak berkualitas?. Justru orang-orang
yang memandang sebelah mata orang cacat adalah orang yang sangat tidak
berkualitas.
Kita
sering berucap “Negara yang besar adalah Negara yang menghargai jasa para pahlawan nya”. Sudah seperti itukah Indonesia kita???
Jangan
tanyakan apa yang Negara telah berikan kepada kita! Tanyakanlah pada diri kita,
apa yang sudah kita berikan untuk Negara kita tercinta!!!!
Bukan
Semarang kalau kita belum duduk dan menikmati segelas kopi di Simpang Lima. Namun
ternyata ada tempat lain yang lebih memukau bahkan sangat. Entah umurnya sudah
berapa abad namun tempat itu masih dijaga dan dirawat sehingga enak untuk
dipandang. Orang-orang memanggilnya kota tua, suatu daerah cagar budaya di
Semarang yang di mana masih berdiri dengan gagah bangunan-bangunan tinggalan
Belanda. Dari Gereja Putih, berbagai-bagai bangunan Bank yang masih digunakan,
hingga bangunan-bangunan lain yang telah tak berpenghuni. Sungguh memukau
pemandangan disalah satu sudut di Kota yang merupakan Ibu kota Jawa Tengah. Di
mana jalannya pun belum beraspal, iaitu masih menggunakan paving-paving yang
masih terlihat rapi.
Di
sisi lain yang membuat prihatin adalah adanya satu bagian dari Kota Tua itu yang
digunakan para Pekerja Sex Komersial untuk menjajakan dagangannya. Sangat disayangkan
makhluk Tuhan yang sesempurna wanita yang mencari nafkah dengan cara menjual
Mahkota Berharga yang mereka miliki. Namun juga tidak dapat sepenuhnya kita
menyalahkan mereka yang butuh wang untuk melangsungkan hidupnya. Indonesia
memang negara yang berpenduduk sangat-sangat berkebalikan dengan lapangan kerja
yang ada. Yang mereka tahu Tuhan sayang umatnya.
Di
sudut lain Kota Semarang juga bisa kita temui Pecinan Semarang. Iaitu suatu
wilayah yang berpenghuni warga Indonesia keturunan China. Daerah yang hampir
sama seperti Kota Tua namun bangunannya bernuansa China. Lengkap dengan segala
aksesorisnya, furniture, makanan, minuman, dan yang pasti ice cream yang sangat
menggoda. Bagi kaum kaula muda yang ingin menghabiskan malam bersama kekasihnya
dengan view pemandangan Kota Semarang bisa mengunjungi Turunan Gombel. Di
tempat itu telah disediakan tempat di mana kita dapat menikmati indahnya
Semarang di malam hari dengan beribu-ribu lampu yang sangat memukau.
Dan
yang tidak mungkin kalian tidak ketahui iaitu Lawang Sewu. Bangunan tua yang
berdiri di tengah Kota yang memiliki seribu pintu. Sungguh sangat memukau
bangunan tersebut untuk dipandang pada malam hari. Tidak jauh dari Lawang Sewu
juga ada Tugu Pahlawan. Sembari menikmati semangkuk wedang ronde duduk di
sekitar Tugu Pahlawan dan sekaligus dapat melihat view Lawang Sewu.
Kata
orang belum sah ke Semarang kalu belum menikmati Lumpia khas Semarang. Makanan
lain yang tidak kalah enak iaitu Tahu Bakso, Wingko, dan juga Bandeng Presto. Semarang Ndess !!!!!!
Nelangsa memang rasanya kalau kudu mengerti bahwa di mana ada awal pasti ada akhirnya. Itulah
yang sedang Sang kapten alami saat ini. Satu setengah tahun telah berlalu. Teringat di
saat pertama kali kita ber sebelas datang ke negeri jiran Malaysia untuk
mengenyam bangku kuliah. Namun sayang salah satu dari kami harus kembali ke
tanah air karena penyakit yang di deritanya. Bersepuluh kita melewati 3
semester dengan kebersamaan bagai keluarga. Susah, senang, sedih, bahagia kita
rasakan bersama. Entah Kapten harus merasa sedih, senang, atau bingung. Mungkin ini
yang dinamakan nano-nano rame rasanya. Mengingat kita semua telah selesai
menjalani pendidikan di rantau, walopun harus ada dua dari teman kami yang
masih harus berjuang satu semester lagi.
Shock
culture, itu mungkin yang kami rasakan saat pertama kali menajajakan hidup yang jauh dari orangtua. Teringat ukuran celana ku yang 34 menjadi 30, style
rambutku dari yang kribo, aku papas pendek kaya anak SMP, sempet jar head pula,
dan sekarang kembali kribo lagi. Dari yang ga bisa masak nasi sampe ketagihan,
dari yang mulus tanpa bulu jadi berewokan, dari yang ga jomblo jadi jomblo laknat,
dari yang mainstream jadi anti mainstream, dan tentunya dari yang anti blogg
jadi demen ngeblogg. Hehe
University
Utara Malaysia(UUM), tempat di mana Sang kapten mendapat pendidikan yang sangat berharga.
Tidak Cuma dari pendidikan formal tetapi juga informal. Berawal dari orientasi
International, saat di mana aku pertama kalinya bisa berkumpul dengan mahasiswa/mahasiswi
dari seluruh penjuru dunia. Dan saat pertama di mana Kapten menyadari betapa
pentingnya kemampuan berbahasa Inggris di kancah international. Ringgit adalah
mata wang yang Kapten gunakan untuk melangsungkan hidup sehari-hari. Malaysia negri
yang sangat berkembang, dari sistem pendidikan, fasilitas pendidikan,
pembangunan, yang bisa semuanya dibilang oke. Orang-orangnya pun ramah dan
sangat antusias tentang semua yang berbau Indonesia khususnya BUDAYA.
Tanggal
18 Juni 2013, di mana hari terakhir Kapten mengenakan Formal uniform sebagai dress
code dari UUM. Kapten pun mengucap sukur untuk semua yang telah di lalui dengan
tidak mudah dan butuh perjuangan yang keras tentunya. Sang kapten yakin semuanya akan
berjalan mulus sesuai rencana Tuhan dan Kapten akan lulus tepat waktu pastinya
untuk wisuda degree ku tahun ini. Amin
DPP
TM 7E 116 adalah tempat yang pantang untuk di lupakan. Tempat di mana Kapten beristirahat, belajar, tempat berbagi cerita kehidupan
dengan roomate, dan tempat di mana Sang kapten exercise juga. Hehe
Di
sini , di University Utara Malaysia sang kapten mendapatkan teman-teman yang bisa
dibilang keluarga. Berada dalam satu naungan Persatuan Pelajar UUM dan juga
Persatuan Pelajar Malaysia kami belajar untuk berorganisasi. Kami membuat berbagai
acara yang mempertemukan seluruh mahasiswa Indonesia di Malaysia. Dari acara
olahraga, seni, seminar, dan berbagai acara lain yang sukar untuk dilupakan. Sang kapten tidak menyangka bisa mengenal orang-orang penting seperti duta besar Indonesia
yang ada di Malaysia yaitu para pejabat dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI).
Rasa
bahagia kami rasakan ketika kami dapat menyelesaikan apa yang telah diamanatkan
oleh Pendidikan Tinggi Indonesia (DIKTI) yang telah memberikan Beasiswa Unggulan kepada kami yang tidak semua
mahasiswa bisa mendapatkannya. Namun kesedihan harus kami alami ketika harus rela meninggalkan tempat di mana
kenangan yang tak terlupakan dibuat. Terlebih sebuah video perpisahan dari junior kami
yang menyentuh membuat kesedihan tidak bisa terbendungkan.
From
my point of view, going abroad is necessarily if we want become a better person
in term of education, knowledge, language, cross culture, and experiences.
Subuh akan di siksa di neraka selama 60,000 tahun waktu di dunia
Zuhur akan
menerima dosa layaknya membunuh 1,000 orang
Asar akan
menerima dosa layaknya merobohkan Kaabah
Maghrib akan menerima dosa sama seperti kita
meniduri ibu kita sendiri
Isa tidak mendapatkan ridho
Alloh selama hidup di bumi, dan tidak mendapatkan nikmat Alloh dalam makan dan
minum.
Setelah cukup lama tidak pergi ke Surau, tulisan di atas Kapten temukan dalam mading yang tertempel di dalam Surau asrama.
Berapa banyak sholat yang sudah kita tinggalkan?
Kali ini aku hadir dalam sosok Aku. Namun tetap
didampingi oleh secangkir kopi pendongkrak imajinasi. Jarum jam tetap tak mau menunggu, baru Aku tinggal
sebentar mengambil air untuk membuat kopi 15 menit pun berlalu. Baru saja Aku
selesai menonton film lama yang di Sutradai oleh Rudy Soedjarwo dan di
produseri oleh Riri Riza & Mira Lesmana. Kedua produser tersebut juga orang
yang sama yang memproduseri film anak-anak “Petualangan Sherina”. Setelah membuat
film anak-anak mereka pun memutuskan untuk mebuat film untuk remaja sebagai
wujud refleksi kehidupan remaja pada saat itu. Film yang di bintangi oleh artis
muda berbakat juga cantik yaitu Dian
Sastrowardoyo sebagai pemeran utama wanita dan Nicolas Saputra sebagai tokoh
utama pria. Sekarang kalian sudah bisa menebak film apa yang aku maksud bukan?
“Ada Apa Dengan Cinta “ (AADC).
Bisa diakatakan berhasil film ini menyihir setiap orang
yang menontonnya kedalam cerita kehidupan remaja saat itu. Bahkan bukan hanya
kalangan remaja saja yang tergiur untuk menikmati film tersebut, aku yang pada
waktu itu masih dibawah umur pun sangat tertarik untuk menontonnya. Akhirnya hari
ini Aku bisa menonton film tersebut secara keseluruhan, karena sebelumnnya aku
hanya suka menonton satu bagian dalam film itu. Yaitu ketika Cinta menyayikan
puisi buatan Rangga di dalam cafe. Dan setelah menontonnya secara keseluruhan
membuat aku tertarik untuk mengulas cerita yang terkandung didalamnya pada
tulisan ini.
Tentang Seseorang
Aku lari ke
hutan, kemudian menyanyiku
Aku lari ke
pantai, kemudian teriakku
Sepi-sepi dan
sendiri
Aku benci
Aku ingin bingar,
Aku mau di pasar
Bosan
Aku dengan
penat,Dan enyah saja kau pekat
seperti berjelaga
jika Ku sendiri
Pecahkan saja
gelasnya biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh,
Ada malaikat
menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih,
Kenapa tak
goyangkan saja loncengnya, biar terdera
Atau aku harus
lari ke hutan belok ke pantai?
bosan aku dengan
penat
dan enyah saja
kau pekat
seperti berjelaga
jika kusendiri
Kenapa? Karena aku melihat kehidupan yang aku cintai
dalam film tersebut yaitu Karya Sastra. Tergambar jelas dalam sosok Rangga dan
Cinta yang suka akan kata puitis yang terlantun dalam bait puisi. Begitu juga
dengan Aku. Saat masih berbalutkan putih biru, aku gemar membaca karya-karya
Khalil Gibran. Akibat dari membaca karya-karya beliau akupun terdorong untuk
membuat kata puitis yang membuat orang geli saat membacannya. Pantas saja,
karena tidak semua orang menyukai sastra. Sebenarnya akupun tidak berniat untuk
memamerkan kata-kata najis yang ku buat kepada teman-teman. Namun karena aku
menyimpannya dalam Nokia 3315 milikku, akhirnya ketika tangan-tangan jail
menyentuhnya kata-kata najis itupun berceceran dimana-mana. Awalnya si malu,
tapi masa iya kita akan terus hidup dalam rasa malu. Yang penting jangan malu
untuk mengakui kesalahan dan keunggulan lawan.
Sedikit bercerita tentang pacar pertamaku. Dia adalah
sosok wanita yang tidak suka dengan kata-kata puitis. Setiap aku kasih dia
kata-kata najis yang aku buat, dia selalu protes. Namanya juga cinta monyet
kali, aku pacaran dengan cewe yang bertolak belakang denganku akan pandangan
terhadap sastra khususnya puisi. Kadang membuatku tertawa kala mengingat
masa-masa itu, dimana aku sering mengirimi dia puisi melalui sms atau memberi
dia karangan Khalil Gibran. Hehehehe
Mungkin sosok Cinta dalam film AADC adalah cewe yang aku
idam-idamin kali ya. Cewe yang suka puisi, suka nyanyi,dan juga suka nulis. Pokoknya
aku demen sesemua yang berbau sastra, apalagi cewe yang ber parfum sastra. Pergaulan
yang bergerombol dalam film itu pun related banget sama kehidupan remaja saat
ini, khususnya cewe-cewe yang bergerombol atau nge-geng. Tentunya sangat
menarik ketika salah satu dari gerombolan itu memendam rasa suka kepada lawan
jenis. Akan timbul pertengkaran dalam batinnya antara sahabat dan cinta. Karena,
faktanya dalam suatu geng akan mempengaruhi satu sama lain khusunya dalam
masalah bercinta dan mengambil suatu keputusan saat ada masalah tentang
hubungan pacaran. Yang membuat aku suka dalam film itu, walaupun Cinta yang
berperan sebagai tokoh utama akhirnya mendapat dukungan dari sahabatnya untuk
mendapatkan cinta yang ada dalam diri Cinta. Mereka saling mendukung satu sama
lain dan bukan saling mempengaruhi dengan pikiran yang tak sejalan dengan hati
Cinta. Mungkin aku tipe orang yang suka terbawa akan cerita khayal dalam film
romantic. Lalu bagaimana tanggapan kalian dengan film AADC ini? Apakah sejalan
dengan pikiranku? Aku yakin tidak. Hehe
Ini satu scene yang aku suka, yaitu sesaat setelah Cinta
menemui Rangga di Bandara sebelum keberangkatannya ke New York dan Rangga
memberikan satu puisi yang ditulis dalam buku hariannya di lembar terakhir. Begini
puisinya....
Perempuan
Perempuan datang
atas nama cinta, bunda pergi karena cinta
Digenangi air
racun jingga adalah wajahmu
Seperti Bulan
lelap tidur di hatimu, yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa
dengannya?
Meninggalkan hati
untuk dicaci
Lalu sekali ini
aku lihat karya surga dari mata seorang hawa
Ada apa dengan
cinta
Tapi aku pasti
akan kembali dalam satu purnama
untuk
mempertanyakan lagi cintanya
Bukan untuknya,
bukan untuk siapa . .
Tapi untuk ku..
Karna aku ingin
kamu
Itu saja..
Mungkin tidak semua cewe akan luluh saat pasangan mereka
menuliskan sebuah puisi seperti yang dilakukan Rangga. Namun bukankah puisi
bisa dikatakan sebagai hadiah buatan sendiri, bukankah banyak orang berkata
bahwa suatu hadiah akan lebih bermakna apabila dibuat dari hasil karya sendiri.
Itu si pandangan ku, entah dengan yang lain. #grin
Inilah sosok Aku......
Aku tipe orang yang menganggap lebih tentang karya
sastra, mungkin karena aku terlahir dari rahim seorang Ibu yang mencari rezeki
dari sastra. Selain sosok Cinta dalam film AADC Aku juga menyukai Sosok Kugi
dalam film Perhau Kertas, karena selain parasnya yang cantik kedua-dua sosok
tersebut ber parfum sastra pula. Dan aku adalah sosok Olip dalam film Jomblo
yang ketika menyukai seorang wanita hanya bisa diam dan susah untuk bergerak
maju. Tentunya hanya bisa stalking tentang si doi setiap hari dan tidak kalah
juga mengumpulkan foto-foto si doi untuk di pandangi. Namun aku tidak berakhirnya
seperti Olip yang tidak bisa mendapatkan Astri yang lebih melilih Doni untuk
dijadikan pasangan karena alasan yang memaksannya(tentunya kalian thau kenapa
akhirnya Astri lebih memilih Doni). Dan saat ini pun aku telah mengagumi
seorang wanita yang hingga saat ini belum ada keberanian untuk mendekatinnya
secara serius.Kekaguman ini aku mulai bersamaan dengan pertama kali aku menulis
blog, ya bisa dibilang si Dia yang menggugah Ku untuk menulis. Hehehe
Selama ini aku salah berfikir tentang seorang blogger. Sebelumnya
aku menganggap seorang blogger layaknya wanita yang suka menulis diary. Namun aku
harus menelan ludahku sendiri, karena saat ini aku pun terjun dalam dunia itu. Mungkin
ini yang akan membawa ku menjadi Seniman Berbasis Menejemen. Hahaha
Seminggu yang lalu tepatnya tanggal 17-19 Mei 2013
Kapten semut mengikuti acara tahunan yang diadakan oleh Persatuan Pelajar
Indonesia Malaysia (PPIM). Acara ini dinamakan Pekan Olahraga dan Seni Pelajar
Indonesia di Malaysia (POSPIM) yang diadakan di University of Malaya. Dalam
acara tersebut Kapten ikut berpartisipasi di cabang olahraga untuk mewakili
kampusnya(ants university). Ants university mengirimkan 38 peserta dalam ajang
POSPIM 2013, yang terbagi dalam 2 cabang seni dan 3 cabang olahraga. Finally,
Ants university mengantongi satu medali dari cabang seni dengan nominasi
sebagai juara pertama.
Mengapa
hanya satu mendali yang kami dapatkan?
Tari Saman UUM
Dalam hal ini kami akhirnya kembali menyadari bahwa
kegagalan adalah kita sendiri yang membuatnya. Berbagai alasan timbul sejalan
dengan kekalahan yang kami terima, namun itu tidak akan merubah keadaan. Yang harus
kita lakukan adalah bukan untuk menyesalinya, tapi bagaimana kita harus
mengkoreksi diri kita bagaimana kekalahan itu datang. Kurangnya persiapan dan
koordinasi dalam tiap cabang yang kita ikuti adalah kesalahan fatal yang harus
diperbaiki. Contohnya cabang badminton yang Kapten ikuti. Untuk pertama kalinya
dalam hidup Kapten dia mengikuti Badminton competition dalam kategori single. Dari
awal Kapten sudah menyadari bahwa single bukanlah spesialisasinya, namun dia
tetap bersedia untuk menjajalnya tanpa ada persiapan yang matang. Di setiap
sesi latihan Kapten selalu berlatih untuk bermain double, di sinilah letak kesalahan
yang akhirnya menyebabkan Kapten berhenti di semifinal dan tidak dapat masuk
final apalagi mendapatkan medali. Mungkin ini terjadi pula dalam cabang lain
yang kami ikuti.
Pengalaman memang menjadi guru yang paling berharga
atau bisa juga kita sebut sebagai investasi yang akan membawa dampak positive
untuk ke depannya. Maka dari itu setiap kalian memutuskan untuk terjun dalam
bidang apa pun yang telah kalian putuskan lakukanlah yang terbaik, persiapkan
semuanya secara matang, dan buat orang di sekitar kalian bangga. Faktanya orang
tidak akan melihat proses yang kita lakukan dalam mencapai tujuan yang kita,
mereka hanya akan memuji dan mengacungi jempol dengan apa yang telah kita raih
(sukses).
tutup mata kalian!tutup telinga kalian!busungkan dada!tengadahkan kepala!buat kesimpulan!aplikasikan!hancurkan tembok yang menghadang!