Wednesday, 19 June 2013

Gundah Gulana

Nelangsa memang rasanya kalau kudu mengerti bahwa di mana ada awal pasti ada akhirnya. Itulah yang sedang Sang kapten alami saat ini. Satu setengah tahun telah berlalu. Teringat di saat pertama kali kita ber sebelas datang ke negeri jiran Malaysia untuk mengenyam bangku kuliah. Namun sayang salah satu dari kami harus kembali ke tanah air karena penyakit yang di deritanya. Bersepuluh kita melewati 3 semester dengan kebersamaan bagai keluarga. Susah, senang, sedih, bahagia kita rasakan bersama. Entah Kapten harus merasa sedih, senang, atau bingung. Mungkin ini yang dinamakan nano-nano rame rasanya. Mengingat kita semua telah selesai menjalani pendidikan di rantau, walopun harus ada dua dari teman kami yang masih harus berjuang satu semester lagi.

Shock culture, itu mungkin yang kami rasakan saat pertama kali menajajakan hidup yang jauh dari orangtua. Teringat ukuran celana ku yang 34 menjadi 30, style rambutku dari yang kribo, aku papas pendek kaya anak SMP, sempet jar head pula, dan sekarang kembali kribo lagi. Dari yang ga bisa masak nasi sampe ketagihan, dari yang mulus tanpa bulu jadi berewokan, dari yang ga jomblo jadi jomblo laknat, dari yang mainstream jadi anti mainstream, dan tentunya dari yang anti blogg jadi demen ngeblogg. Hehe

University Utara Malaysia(UUM), tempat di mana Sang kapten mendapat pendidikan yang sangat berharga. Tidak Cuma dari pendidikan formal tetapi juga informal. Berawal dari orientasi International, saat di mana aku pertama kalinya bisa berkumpul dengan mahasiswa/mahasiswi dari seluruh penjuru dunia. Dan saat pertama di mana Kapten menyadari betapa pentingnya kemampuan berbahasa Inggris di kancah international. Ringgit adalah mata wang yang Kapten gunakan untuk melangsungkan hidup sehari-hari. Malaysia negri yang sangat berkembang, dari sistem pendidikan, fasilitas pendidikan, pembangunan, yang bisa semuanya dibilang oke. Orang-orangnya pun ramah dan sangat antusias tentang semua yang berbau Indonesia khususnya BUDAYA.

Tanggal 18 Juni 2013, di mana hari terakhir Kapten mengenakan Formal uniform sebagai dress code dari UUM. Kapten pun mengucap sukur untuk semua yang telah di lalui dengan tidak mudah dan butuh perjuangan yang keras tentunya. Sang kapten yakin semuanya akan berjalan mulus sesuai rencana Tuhan dan Kapten akan lulus tepat waktu pastinya untuk wisuda degree ku tahun ini. Amin

DPP TM 7E 116 adalah tempat yang pantang untuk di lupakan. Tempat di mana Kapten beristirahat,  belajar, tempat berbagi cerita kehidupan dengan roomate, dan tempat di mana Sang kapten exercise juga. Hehe

Di sini , di University Utara Malaysia sang kapten mendapatkan teman-teman yang bisa dibilang keluarga. Berada dalam satu naungan Persatuan Pelajar UUM dan juga Persatuan Pelajar Malaysia kami belajar untuk berorganisasi. Kami membuat berbagai acara yang mempertemukan seluruh mahasiswa Indonesia di Malaysia. Dari acara olahraga, seni, seminar, dan berbagai acara lain yang sukar untuk dilupakan. Sang kapten tidak menyangka bisa mengenal orang-orang penting seperti duta besar Indonesia yang ada di Malaysia yaitu para pejabat dari Kedutaan Besar Republik Indonesia  (KBRI) dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI).

Rasa bahagia kami rasakan ketika kami dapat menyelesaikan apa yang telah diamanatkan oleh Pendidikan Tinggi Indonesia (DIKTI) yang telah memberikan Beasiswa Unggulan kepada kami yang tidak semua mahasiswa bisa mendapatkannya. Namun kesedihan harus kami alami  ketika harus rela meninggalkan tempat di mana kenangan yang tak terlupakan dibuat. Terlebih sebuah video perpisahan dari junior kami yang menyentuh membuat kesedihan tidak bisa terbendungkan.

From my point of view, going abroad is necessarily if we want become a better person in term of education, knowledge, language, cross culture, and experiences.

Good bye UUM, I’ll miss you so much.

No comments:

Post a Comment