Nelangsa memang rasanya kalau kudu mengerti bahwa di mana ada awal pasti ada akhirnya. Itulah
yang sedang Sang kapten alami saat ini. Satu setengah tahun telah berlalu. Teringat di
saat pertama kali kita ber sebelas datang ke negeri jiran Malaysia untuk
mengenyam bangku kuliah. Namun sayang salah satu dari kami harus kembali ke
tanah air karena penyakit yang di deritanya. Bersepuluh kita melewati 3
semester dengan kebersamaan bagai keluarga. Susah, senang, sedih, bahagia kita
rasakan bersama. Entah Kapten harus merasa sedih, senang, atau bingung. Mungkin ini
yang dinamakan nano-nano rame rasanya. Mengingat kita semua telah selesai
menjalani pendidikan di rantau, walopun harus ada dua dari teman kami yang
masih harus berjuang satu semester lagi.
Shock
culture, itu mungkin yang kami rasakan saat pertama kali menajajakan hidup yang jauh dari orangtua. Teringat ukuran celana ku yang 34 menjadi 30, style
rambutku dari yang kribo, aku papas pendek kaya anak SMP, sempet jar head pula,
dan sekarang kembali kribo lagi. Dari yang ga bisa masak nasi sampe ketagihan,
dari yang mulus tanpa bulu jadi berewokan, dari yang ga jomblo jadi jomblo laknat,
dari yang mainstream jadi anti mainstream, dan tentunya dari yang anti blogg
jadi demen ngeblogg. Hehe
University
Utara Malaysia(UUM), tempat di mana Sang kapten mendapat pendidikan yang sangat berharga.
Tidak Cuma dari pendidikan formal tetapi juga informal. Berawal dari orientasi
International, saat di mana aku pertama kalinya bisa berkumpul dengan mahasiswa/mahasiswi
dari seluruh penjuru dunia. Dan saat pertama di mana Kapten menyadari betapa
pentingnya kemampuan berbahasa Inggris di kancah international. Ringgit adalah
mata wang yang Kapten gunakan untuk melangsungkan hidup sehari-hari. Malaysia negri
yang sangat berkembang, dari sistem pendidikan, fasilitas pendidikan,
pembangunan, yang bisa semuanya dibilang oke. Orang-orangnya pun ramah dan
sangat antusias tentang semua yang berbau Indonesia khususnya BUDAYA.
Tanggal
18 Juni 2013, di mana hari terakhir Kapten mengenakan Formal uniform sebagai dress
code dari UUM. Kapten pun mengucap sukur untuk semua yang telah di lalui dengan
tidak mudah dan butuh perjuangan yang keras tentunya. Sang kapten yakin semuanya akan
berjalan mulus sesuai rencana Tuhan dan Kapten akan lulus tepat waktu pastinya
untuk wisuda degree ku tahun ini. Amin
DPP
TM 7E 116 adalah tempat yang pantang untuk di lupakan. Tempat di mana Kapten beristirahat, belajar, tempat berbagi cerita kehidupan
dengan roomate, dan tempat di mana Sang kapten exercise juga. Hehe
Di
sini , di University Utara Malaysia sang kapten mendapatkan teman-teman yang bisa
dibilang keluarga. Berada dalam satu naungan Persatuan Pelajar UUM dan juga
Persatuan Pelajar Malaysia kami belajar untuk berorganisasi. Kami membuat berbagai
acara yang mempertemukan seluruh mahasiswa Indonesia di Malaysia. Dari acara
olahraga, seni, seminar, dan berbagai acara lain yang sukar untuk dilupakan. Sang kapten tidak menyangka bisa mengenal orang-orang penting seperti duta besar Indonesia
yang ada di Malaysia yaitu para pejabat dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI).
Rasa
bahagia kami rasakan ketika kami dapat menyelesaikan apa yang telah diamanatkan
oleh Pendidikan Tinggi Indonesia (DIKTI) yang telah memberikan Beasiswa Unggulan kepada kami yang tidak semua
mahasiswa bisa mendapatkannya. Namun kesedihan harus kami alami ketika harus rela meninggalkan tempat di mana
kenangan yang tak terlupakan dibuat. Terlebih sebuah video perpisahan dari junior kami
yang menyentuh membuat kesedihan tidak bisa terbendungkan.
From
my point of view, going abroad is necessarily if we want become a better person
in term of education, knowledge, language, cross culture, and experiences.
Good
bye UUM, I’ll miss you so much.
No comments:
Post a Comment