Dua pekerjaan mulia adalah pendidik dan
entertains bahkan dapat dikatakan sangat mulia. Apa jadinya dunia ini tanpa
seorang guru atau pendidik, apa jadinya dunia ini tanpa ada nya hiburan dari
seorang entertains. Akhirnya bukti dari kemulian guru dan seniman pun kapten
dapati secara nyata.
Kamis, 19 September 2013. Kapten
mengikuti suatu talk show yang di moderatori Andy F. Noya, yang terkenal dengan
acaranya Kick Andy. Tema yang diangkat adalah “ Kisah Inspiratif dari Guru
untuk Guru”. Sungguh sangat menggugah selera mendengar topic pada talk show
kali ini. Ratusan Guru di Kabupaten Banyumas berbondong-bondong antusias datang
dan berpartisipasi dalam talk show tersebut.Om Andy sebagai moderator pandai
untuk membuat suasana menjadi hangat, apalagi setelah bintang tamu pertama di
datangkan. Beliau adalah seorang pensiunan guru matematika di SMP 1 Parakan,
Ibu Ian panggilan akrabnya. Beliau lahir dari orang tua yang tidak mampu. Untuk
menempuh pendidikan hingga Sekolah Menengah Pertama, Ibu Ian mencari majikan
untuk memperkejakannya sebagai pembantu dan menyekolahkannya sebagai
imbalannya. Sungguh usaha yang sangat, hanya untuk mendapatkan bangku
pendidikan yang di impi-impikan. Coba lihat diri kita, kita yang serba
berkecukupan, orangtua kita mampu mebiayai kita bersekolah namun untuk
menjalainnya kita banyak mengeluh. Sesekali melihatlah kebawah, jangan hanya
melihat ke atas, karena tidak akan ada habis batas pandang ke atas.
Beliau berhasil menempuh pendidikan 12
tahun, dengan usaha dan kerja kerasnya yang sulit untuk kita tiru apalagi
lakukan. Bahkan yang paling menarik, ternyata beliau pun mencoba untuk
melangkahkan kaki kejenjang universitas. Ibu Ian di terima di Universitas Gajah
Mada (UGM), namun karena masalah biaya administrasi yang tidak dapat dilunasi
beliau dengan sangat menyesal melepaskan kesempatan tersebut dan memutuskan untuk
mengabdikan diri sebgai Pahlawan tanpa tanda jasa. Yang lebih dan sangat
mengagumkan lagi, di usianya yang sudah tidak muda lagi juga hidup hanya dari
uang pensiuan guru, beliau mengasuh 24 anak yang kurang mampu untuk dibiayai
sekolah. Sungguh mulia apa yang beliau lakukan untuk menyelamatkan generasi
muda dari lubang hitam tanpa pendidikan. Dengan berbekal Ilmu Matematik yang
Ibu Ian kuasai, ke 24 anak asuhnya berhasil menempuh pendidikan sampai
bangku Universitas dengan biaya dari Pemerintah (Beasiswa). Selain mengasuh
anak, beliau pun membuka Puskesmas Matematika dirumahnya yang hanya mengontrak.
Puskemas Matematika di tujukan bagi siswa-siswi yang susah untuk memahami ilmu
tersebut, dan Ibu Ian menyebutnya sebagai penyakit. Dengan rumah yang sangat sederhana, namun beratus-ratus anak didiknya
selalu memenuhi harinya untuk menyalurkan ilmu yang beliau kuasai. Sangat mulia,
sangat tulus, apa yang telah beliau lakukan. Dan hasilnya semua anak asuhnya
menjadi generasi muda yang berpotensi untuk menjadi seorang pemimpin. Bahkan salah
satu dari mereka ada yang sedang menempuh pendidikan S3 di Belanda dengan
jalur beasiswa tentunya.
Perlu kalian ketahui, bahwa dari beratus-ratus
pasien beliau yang mampu untuk membayar hanya segelintir anak saja. Apakah anda
masih setuju dengan judul tulisan ini yang mengatakan bahwa guru adalah “
setengah penganggur tidak tentara”.
Nara sumber yang keduapun tidak kalah
menyentuh. Ibu Irma namanya, dia adalah seorang penyandang cacat yang dapat
mensejahterakan orang-orang cacat di Indonesia dengan keterampilan yang dia
miliki. Ibu Irma menderita penyakit Polio saat berumur 4 tahun, dan dia pun
tidak dapat berjalan dengan sempurna sampai saat ini. Namun dengan ketekunannya
bersama sang suami, dia berhasil mengubah dunianya. Dengan usaha yang dia
kerjakan sebagai pengrajin keset, saat ini dia sudah mempunyai berpuluh – puluh
ribu rekan kerja di seluruh pelosok Negri. Dan semua rekan yang dia miliki
adalah hasil didikian Ibu Irma. Ibu Irma mengajarkan keterampilan pada
orang-orang penyandang cacat. Tidak hanya orang cacat yang dia rekrut di dunia
bisnisnya, namun psk dan waria pun dia mau untuk mengajarkan keterampilannya. Dia
bukan seorang yang bodoh, Ibu Irma adalah orang yang jenius dan berhati mulia. Perlu
kita ketahui beliau berhasil menyelesaikan pendidikan hingga bangku Sekolah
Menengah Atas. Bahkan, yang tidak kalah mengagumkan dia berhasil lolos tes
masuk universitas tepatnya di Universitas Gajah Mada. Namun, karena biaya lagi
dan lagi hanya penyesalan yang dia dapatkan. Dari penyesalan inilah Ibu Irma
berinisiatif untuk membuka lapangan kerja, karena tidak ada perusahan yang mau
untuk menerimanya bekerja dengan keadaannya yang kurang sempurna itu. “Don’t
judge the book just from the cover”, inilah kelemahan negeri kita. Banyak orang
yang mengatakan bahwa terpuruknya negeri kita di akari oleh sumber daya manusia
yang kurang berkualitas. Apakah Ibu Irma tidak berkualitas?. Justru orang-orang
yang memandang sebelah mata orang cacat adalah orang yang sangat tidak
berkualitas.
Kita
sering berucap “Negara yang besar adalah Negara yang menghargai jasa para pahlawan nya”. Sudah seperti itukah Indonesia kita???
Jangan
tanyakan apa yang Negara telah berikan kepada kita! Tanyakanlah pada diri kita,
apa yang sudah kita berikan untuk Negara kita tercinta!!!!
No comments:
Post a Comment