Friday, 20 September 2013

“ setengah penganggur tidak kentara”




Dua pekerjaan mulia adalah pendidik dan entertains bahkan dapat dikatakan sangat mulia. Apa jadinya dunia ini tanpa seorang guru atau pendidik, apa jadinya dunia ini tanpa ada nya hiburan dari seorang entertains. Akhirnya bukti dari kemulian guru dan seniman pun kapten dapati secara nyata. 

Kamis, 19 September 2013. Kapten mengikuti suatu talk show yang di moderatori Andy F. Noya, yang terkenal dengan acaranya Kick Andy. Tema yang diangkat adalah “ Kisah Inspiratif dari Guru untuk Guru”. Sungguh sangat menggugah selera mendengar topic pada talk show kali ini. Ratusan Guru di Kabupaten Banyumas berbondong-bondong antusias datang dan berpartisipasi dalam talk show tersebut.Om Andy sebagai moderator pandai untuk membuat suasana menjadi hangat, apalagi setelah bintang tamu pertama di datangkan. Beliau adalah seorang pensiunan guru matematika di SMP 1 Parakan, Ibu Ian panggilan akrabnya. Beliau lahir dari orang tua yang tidak mampu. Untuk menempuh pendidikan hingga Sekolah Menengah Pertama, Ibu Ian mencari majikan untuk memperkejakannya sebagai pembantu dan menyekolahkannya sebagai imbalannya. Sungguh usaha yang sangat, hanya untuk mendapatkan bangku pendidikan yang di impi-impikan. Coba lihat diri kita, kita yang serba berkecukupan, orangtua kita mampu mebiayai kita bersekolah namun untuk menjalainnya kita banyak mengeluh. Sesekali melihatlah kebawah, jangan hanya melihat ke atas, karena tidak akan ada habis batas pandang ke atas. 

Beliau berhasil menempuh pendidikan 12 tahun, dengan usaha dan kerja kerasnya yang sulit untuk kita tiru apalagi lakukan. Bahkan yang paling menarik, ternyata beliau pun mencoba untuk melangkahkan kaki kejenjang universitas. Ibu Ian di terima di Universitas Gajah Mada (UGM), namun karena masalah biaya administrasi yang tidak dapat dilunasi beliau dengan sangat menyesal melepaskan kesempatan tersebut dan memutuskan untuk mengabdikan diri sebgai Pahlawan tanpa tanda jasa. Yang lebih dan sangat mengagumkan lagi, di usianya yang sudah tidak muda lagi juga hidup hanya dari uang pensiuan guru, beliau mengasuh 24 anak yang kurang mampu untuk dibiayai sekolah. Sungguh mulia apa yang beliau lakukan untuk menyelamatkan generasi muda dari lubang hitam tanpa pendidikan. Dengan berbekal Ilmu Matematik yang Ibu Ian kuasai, ke 24 anak asuhnya berhasil menempuh pendidikan sampai bangku Universitas dengan biaya dari Pemerintah (Beasiswa). Selain mengasuh anak, beliau pun membuka Puskesmas Matematika dirumahnya yang hanya mengontrak. Puskemas Matematika di tujukan bagi siswa-siswi yang susah untuk memahami ilmu tersebut, dan Ibu Ian menyebutnya sebagai penyakit. Dengan rumah yang sangat sederhana, namun beratus-ratus anak didiknya selalu memenuhi harinya untuk menyalurkan ilmu yang beliau kuasai. Sangat mulia, sangat tulus, apa yang telah beliau lakukan. Dan hasilnya semua anak asuhnya menjadi generasi muda yang berpotensi untuk menjadi seorang pemimpin. Bahkan salah satu dari mereka ada yang sedang menempuh pendidikan S3 di Belanda dengan jalur beasiswa tentunya. 

Perlu kalian ketahui, bahwa dari beratus-ratus pasien beliau yang mampu untuk membayar hanya segelintir anak saja. Apakah anda masih setuju dengan judul tulisan ini yang mengatakan bahwa guru adalah “ setengah penganggur tidak tentara”. 

Nara sumber yang keduapun tidak kalah menyentuh. Ibu Irma namanya, dia adalah seorang penyandang cacat yang dapat mensejahterakan orang-orang cacat di Indonesia dengan keterampilan yang dia miliki. Ibu Irma menderita penyakit Polio saat berumur 4 tahun, dan dia pun tidak dapat berjalan dengan sempurna sampai saat ini. Namun dengan ketekunannya bersama sang suami, dia berhasil mengubah dunianya. Dengan usaha yang dia kerjakan sebagai pengrajin keset, saat ini dia sudah mempunyai berpuluh – puluh ribu rekan kerja di seluruh pelosok Negri. Dan semua rekan yang dia miliki adalah hasil didikian Ibu Irma. Ibu Irma mengajarkan keterampilan pada orang-orang penyandang cacat. Tidak hanya orang cacat yang dia rekrut di dunia bisnisnya, namun psk dan waria pun dia mau untuk mengajarkan keterampilannya. Dia bukan seorang yang bodoh, Ibu Irma adalah orang yang jenius dan berhati mulia. Perlu kita ketahui beliau berhasil menyelesaikan pendidikan hingga bangku Sekolah Menengah Atas. Bahkan, yang tidak kalah mengagumkan dia berhasil lolos tes masuk universitas tepatnya di Universitas Gajah Mada. Namun, karena biaya lagi dan lagi hanya penyesalan yang dia dapatkan. Dari penyesalan inilah Ibu Irma berinisiatif untuk membuka lapangan kerja, karena tidak ada perusahan yang mau untuk menerimanya bekerja dengan keadaannya yang kurang sempurna itu. “Don’t judge the book just from the cover”, inilah kelemahan negeri kita. Banyak orang yang mengatakan bahwa terpuruknya negeri kita di akari oleh sumber daya manusia yang kurang berkualitas. Apakah Ibu Irma tidak berkualitas?. Justru orang-orang yang memandang sebelah mata orang cacat adalah orang yang sangat tidak berkualitas. 

Kita sering berucap “Negara yang besar adalah Negara yang menghargai jasa para pahlawan nya”. Sudah seperti itukah Indonesia kita???

Jangan tanyakan apa yang Negara telah berikan kepada kita! Tanyakanlah pada diri kita, apa yang sudah kita berikan untuk Negara kita tercinta!!!!

No comments:

Post a Comment