Kali ini aku hadir dalam sosok Aku. Namun tetap
didampingi oleh secangkir kopi pendongkrak imajinasi. Jarum jam tetap tak mau menunggu, baru Aku tinggal
sebentar mengambil air untuk membuat kopi 15 menit pun berlalu. Baru saja Aku
selesai menonton film lama yang di Sutradai oleh Rudy Soedjarwo dan di
produseri oleh Riri Riza & Mira Lesmana. Kedua produser tersebut juga orang
yang sama yang memproduseri film anak-anak “Petualangan Sherina”. Setelah membuat
film anak-anak mereka pun memutuskan untuk mebuat film untuk remaja sebagai
wujud refleksi kehidupan remaja pada saat itu. Film yang di bintangi oleh artis
muda berbakat juga cantik yaitu Dian
Sastrowardoyo sebagai pemeran utama wanita dan Nicolas Saputra sebagai tokoh
utama pria. Sekarang kalian sudah bisa menebak film apa yang aku maksud bukan?
“Ada Apa Dengan Cinta “ (AADC).
Bisa diakatakan berhasil film ini menyihir setiap orang
yang menontonnya kedalam cerita kehidupan remaja saat itu. Bahkan bukan hanya
kalangan remaja saja yang tergiur untuk menikmati film tersebut, aku yang pada
waktu itu masih dibawah umur pun sangat tertarik untuk menontonnya. Akhirnya hari
ini Aku bisa menonton film tersebut secara keseluruhan, karena sebelumnnya aku
hanya suka menonton satu bagian dalam film itu. Yaitu ketika Cinta menyayikan
puisi buatan Rangga di dalam cafe. Dan setelah menontonnya secara keseluruhan
membuat aku tertarik untuk mengulas cerita yang terkandung didalamnya pada
tulisan ini.
Tentang Seseorang
Aku lari ke
hutan, kemudian menyanyiku
Aku lari ke
pantai, kemudian teriakku
Sepi-sepi dan
sendiri
Aku benci
Aku ingin bingar,
Aku mau di pasar
Bosan
Aku dengan
penat,Dan enyah saja kau pekat
seperti berjelaga
jika Ku sendiri
Pecahkan saja
gelasnya biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh,
Ada malaikat
menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih,
Kenapa tak
goyangkan saja loncengnya, biar terdera
Atau aku harus
lari ke hutan belok ke pantai?
bosan aku dengan
penat
dan enyah saja
kau pekat
seperti berjelaga
jika kusendiri
Kenapa? Karena aku melihat kehidupan yang aku cintai
dalam film tersebut yaitu Karya Sastra. Tergambar jelas dalam sosok Rangga dan
Cinta yang suka akan kata puitis yang terlantun dalam bait puisi. Begitu juga
dengan Aku. Saat masih berbalutkan putih biru, aku gemar membaca karya-karya
Khalil Gibran. Akibat dari membaca karya-karya beliau akupun terdorong untuk
membuat kata puitis yang membuat orang geli saat membacannya. Pantas saja,
karena tidak semua orang menyukai sastra. Sebenarnya akupun tidak berniat untuk
memamerkan kata-kata najis yang ku buat kepada teman-teman. Namun karena aku
menyimpannya dalam Nokia 3315 milikku, akhirnya ketika tangan-tangan jail
menyentuhnya kata-kata najis itupun berceceran dimana-mana. Awalnya si malu,
tapi masa iya kita akan terus hidup dalam rasa malu. Yang penting jangan malu
untuk mengakui kesalahan dan keunggulan lawan.
Sedikit bercerita tentang pacar pertamaku. Dia adalah
sosok wanita yang tidak suka dengan kata-kata puitis. Setiap aku kasih dia
kata-kata najis yang aku buat, dia selalu protes. Namanya juga cinta monyet
kali, aku pacaran dengan cewe yang bertolak belakang denganku akan pandangan
terhadap sastra khususnya puisi. Kadang membuatku tertawa kala mengingat
masa-masa itu, dimana aku sering mengirimi dia puisi melalui sms atau memberi
dia karangan Khalil Gibran. Hehehehe
Mungkin sosok Cinta dalam film AADC adalah cewe yang aku
idam-idamin kali ya. Cewe yang suka puisi, suka nyanyi,dan juga suka nulis. Pokoknya
aku demen sesemua yang berbau sastra, apalagi cewe yang ber parfum sastra. Pergaulan
yang bergerombol dalam film itu pun related banget sama kehidupan remaja saat
ini, khususnya cewe-cewe yang bergerombol atau nge-geng. Tentunya sangat
menarik ketika salah satu dari gerombolan itu memendam rasa suka kepada lawan
jenis. Akan timbul pertengkaran dalam batinnya antara sahabat dan cinta. Karena,
faktanya dalam suatu geng akan mempengaruhi satu sama lain khusunya dalam
masalah bercinta dan mengambil suatu keputusan saat ada masalah tentang
hubungan pacaran. Yang membuat aku suka dalam film itu, walaupun Cinta yang
berperan sebagai tokoh utama akhirnya mendapat dukungan dari sahabatnya untuk
mendapatkan cinta yang ada dalam diri Cinta. Mereka saling mendukung satu sama
lain dan bukan saling mempengaruhi dengan pikiran yang tak sejalan dengan hati
Cinta. Mungkin aku tipe orang yang suka terbawa akan cerita khayal dalam film
romantic. Lalu bagaimana tanggapan kalian dengan film AADC ini? Apakah sejalan
dengan pikiranku? Aku yakin tidak. Hehe
Ini satu scene yang aku suka, yaitu sesaat setelah Cinta
menemui Rangga di Bandara sebelum keberangkatannya ke New York dan Rangga
memberikan satu puisi yang ditulis dalam buku hariannya di lembar terakhir. Begini
puisinya....
Perempuan
Perempuan datang
atas nama cinta, bunda pergi karena cinta
Digenangi air
racun jingga adalah wajahmu
Seperti Bulan
lelap tidur di hatimu, yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa
dengannya?
Meninggalkan hati
untuk dicaci
Lalu sekali ini
aku lihat karya surga dari mata seorang hawa
Ada apa dengan
cinta
Tapi aku pasti
akan kembali dalam satu purnama
untuk
mempertanyakan lagi cintanya
Bukan untuknya,
bukan untuk siapa . .
Tapi untuk ku..
Karna aku ingin
kamu
Itu saja..
Mungkin tidak semua cewe akan luluh saat pasangan mereka
menuliskan sebuah puisi seperti yang dilakukan Rangga. Namun bukankah puisi
bisa dikatakan sebagai hadiah buatan sendiri, bukankah banyak orang berkata
bahwa suatu hadiah akan lebih bermakna apabila dibuat dari hasil karya sendiri.
Itu si pandangan ku, entah dengan yang lain. #grin
Inilah sosok Aku......
Aku tipe orang yang menganggap lebih tentang karya
sastra, mungkin karena aku terlahir dari rahim seorang Ibu yang mencari rezeki
dari sastra. Selain sosok Cinta dalam film AADC Aku juga menyukai Sosok Kugi
dalam film Perhau Kertas, karena selain parasnya yang cantik kedua-dua sosok
tersebut ber parfum sastra pula. Dan aku adalah sosok Olip dalam film Jomblo
yang ketika menyukai seorang wanita hanya bisa diam dan susah untuk bergerak
maju. Tentunya hanya bisa stalking tentang si doi setiap hari dan tidak kalah
juga mengumpulkan foto-foto si doi untuk di pandangi. Namun aku tidak berakhirnya
seperti Olip yang tidak bisa mendapatkan Astri yang lebih melilih Doni untuk
dijadikan pasangan karena alasan yang memaksannya(tentunya kalian thau kenapa
akhirnya Astri lebih memilih Doni). Dan saat ini pun aku telah mengagumi
seorang wanita yang hingga saat ini belum ada keberanian untuk mendekatinnya
secara serius.Kekaguman ini aku mulai bersamaan dengan pertama kali aku menulis
blog, ya bisa dibilang si Dia yang menggugah Ku untuk menulis. Hehehe
Selama ini aku salah berfikir tentang seorang blogger. Sebelumnya
aku menganggap seorang blogger layaknya wanita yang suka menulis diary. Namun aku
harus menelan ludahku sendiri, karena saat ini aku pun terjun dalam dunia itu. Mungkin
ini yang akan membawa ku menjadi Seniman Berbasis Menejemen. Hahaha
Menulislah!!! sebelum menulis itu dilarang!!

No comments:
Post a Comment