Thursday, 30 May 2013

aku

Kali ini aku hadir dalam sosok Aku. Namun tetap didampingi oleh secangkir kopi pendongkrak imajinasi. Jarum jam tetap tak mau menunggu, baru Aku tinggal sebentar mengambil air untuk membuat kopi 15 menit pun berlalu. Baru saja Aku selesai menonton film lama yang di Sutradai oleh Rudy Soedjarwo dan di produseri oleh Riri Riza & Mira Lesmana. Kedua produser tersebut juga orang yang sama yang memproduseri film anak-anak “Petualangan Sherina”. Setelah membuat film anak-anak mereka pun memutuskan untuk mebuat film untuk remaja sebagai wujud refleksi kehidupan remaja pada saat itu. Film yang di bintangi oleh artis muda berbakat  juga cantik yaitu Dian Sastrowardoyo sebagai pemeran utama wanita dan Nicolas Saputra sebagai tokoh utama pria. Sekarang kalian sudah bisa menebak film apa yang aku maksud bukan?

“Ada Apa Dengan Cinta “ (AADC).

Bisa diakatakan berhasil film ini menyihir setiap orang yang menontonnya kedalam cerita kehidupan remaja saat itu. Bahkan bukan hanya kalangan remaja saja yang tergiur untuk menikmati film tersebut, aku yang pada waktu itu masih dibawah umur pun sangat tertarik untuk menontonnya. Akhirnya hari ini Aku bisa menonton film tersebut secara keseluruhan, karena sebelumnnya aku hanya suka menonton satu bagian dalam film itu. Yaitu ketika Cinta menyayikan puisi buatan Rangga di dalam cafe. Dan setelah menontonnya secara keseluruhan membuat aku tertarik untuk mengulas cerita yang terkandung didalamnya pada tulisan ini.

Tentang Seseorang

Aku lari ke hutan, kemudian menyanyiku
Aku lari ke pantai, kemudian teriakku
Sepi-sepi dan sendiri
Aku benci

Aku ingin bingar,
Aku mau di pasar Bosan
Aku dengan penat,Dan enyah saja kau pekat
seperti berjelaga jika Ku sendiri

Pecahkan saja gelasnya biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh,
Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih,
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya, biar terdera

Atau aku harus lari ke hutan belok ke pantai?

bosan aku dengan penat
dan enyah saja kau pekat
seperti berjelaga jika kusendiri

Kenapa? Karena aku melihat kehidupan yang aku cintai dalam film tersebut yaitu Karya Sastra. Tergambar jelas dalam sosok Rangga dan Cinta yang suka akan kata puitis yang terlantun dalam bait puisi. Begitu juga dengan Aku. Saat masih berbalutkan putih biru, aku gemar membaca karya-karya Khalil Gibran. Akibat dari membaca karya-karya beliau akupun terdorong untuk membuat kata puitis yang membuat orang geli saat membacannya. Pantas saja, karena tidak semua orang menyukai sastra. Sebenarnya akupun tidak berniat untuk memamerkan kata-kata najis yang ku buat kepada teman-teman. Namun karena aku menyimpannya dalam Nokia 3315 milikku, akhirnya ketika tangan-tangan jail menyentuhnya kata-kata najis itupun berceceran dimana-mana. Awalnya si malu, tapi masa iya kita akan terus hidup dalam rasa malu. Yang penting jangan malu untuk mengakui kesalahan dan keunggulan lawan.

Sedikit bercerita tentang pacar pertamaku. Dia adalah sosok wanita yang tidak suka dengan kata-kata puitis. Setiap aku kasih dia kata-kata najis yang aku buat, dia selalu protes. Namanya juga cinta monyet kali, aku pacaran dengan cewe yang bertolak belakang denganku akan pandangan terhadap sastra khususnya puisi. Kadang membuatku tertawa kala mengingat masa-masa itu, dimana aku sering mengirimi dia puisi melalui sms atau memberi dia karangan Khalil Gibran. Hehehehe

Mungkin sosok Cinta dalam film AADC adalah cewe yang aku idam-idamin kali ya. Cewe yang suka puisi, suka nyanyi,dan juga suka nulis. Pokoknya aku demen sesemua yang berbau sastra, apalagi cewe yang ber parfum sastra. Pergaulan yang bergerombol dalam film itu pun related banget sama kehidupan remaja saat ini, khususnya cewe-cewe yang bergerombol atau nge-geng. Tentunya sangat menarik ketika salah satu dari gerombolan itu memendam rasa suka kepada lawan jenis. Akan timbul pertengkaran dalam batinnya antara sahabat dan cinta. Karena, faktanya dalam suatu geng akan mempengaruhi satu sama lain khusunya dalam masalah bercinta dan mengambil suatu keputusan saat ada masalah tentang hubungan pacaran. Yang membuat aku suka dalam film itu, walaupun Cinta yang berperan sebagai tokoh utama akhirnya mendapat dukungan dari sahabatnya untuk mendapatkan cinta yang ada dalam diri Cinta. Mereka saling mendukung satu sama lain dan bukan saling mempengaruhi dengan pikiran yang tak sejalan dengan hati Cinta. Mungkin aku tipe orang yang suka terbawa akan cerita khayal dalam film romantic. Lalu bagaimana tanggapan kalian dengan film AADC ini? Apakah sejalan dengan pikiranku? Aku yakin tidak. Hehe

Ini satu scene yang aku suka, yaitu sesaat setelah Cinta menemui Rangga di Bandara sebelum keberangkatannya ke New York dan Rangga memberikan satu puisi yang ditulis dalam buku hariannya di lembar terakhir. Begini puisinya....

Perempuan
Perempuan datang atas nama cinta, bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti Bulan lelap tidur di hatimu, yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya?
Meninggalkan hati untuk dicaci
Lalu sekali ini aku lihat karya surga dari mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta
Tapi aku pasti akan kembali dalam satu purnama
untuk mempertanyakan lagi cintanya
Bukan untuknya, bukan untuk siapa . .
Tapi untuk ku..
Karna aku ingin kamu
Itu saja..

Mungkin tidak semua cewe akan luluh saat pasangan mereka menuliskan sebuah puisi seperti yang dilakukan Rangga. Namun bukankah puisi bisa dikatakan sebagai hadiah buatan sendiri, bukankah banyak orang berkata bahwa suatu hadiah akan lebih bermakna apabila dibuat dari hasil karya sendiri. Itu si pandangan ku, entah dengan yang lain. #grin

Inilah sosok Aku......

Aku tipe orang yang menganggap lebih tentang karya sastra, mungkin karena aku terlahir dari rahim seorang Ibu yang mencari rezeki dari sastra. Selain sosok Cinta dalam film AADC Aku juga menyukai Sosok Kugi dalam film Perhau Kertas, karena selain parasnya yang cantik kedua-dua sosok tersebut ber parfum sastra pula. Dan aku adalah sosok Olip dalam film Jomblo yang ketika menyukai seorang wanita hanya bisa diam dan susah untuk bergerak maju. Tentunya hanya bisa stalking tentang si doi setiap hari dan tidak kalah juga mengumpulkan foto-foto si doi untuk di pandangi. Namun aku tidak berakhirnya seperti Olip yang tidak bisa mendapatkan Astri yang lebih melilih Doni untuk dijadikan pasangan karena alasan yang memaksannya(tentunya kalian thau kenapa akhirnya Astri lebih memilih Doni). Dan saat ini pun aku telah mengagumi seorang wanita yang hingga saat ini belum ada keberanian untuk mendekatinnya secara serius.Kekaguman ini aku mulai bersamaan dengan pertama kali aku menulis blog, ya bisa dibilang si Dia yang menggugah Ku untuk menulis. Hehehe

Selama ini aku salah berfikir tentang seorang blogger. Sebelumnya aku menganggap seorang blogger layaknya wanita yang suka menulis diary. Namun aku harus menelan ludahku sendiri, karena saat ini aku pun terjun dalam dunia itu. Mungkin ini yang akan membawa ku menjadi Seniman Berbasis Menejemen. Hahaha


Menulislah!!! sebelum menulis itu dilarang!!

No comments:

Post a Comment