Wisuda tak seindah yang orang
bayangkan. Menurut saya itu sangat membosankan. Tidak ada dosen yang mengajar
di depan kelas, tidak ada kegiatan tulis menulis, apalagi mendengarkan. Otak kita
tidak bekerja, hanya diam dan menunggu. Sangat membosankan…
Sesaat setelah wisuda saya mulai
berfikir apa itu arti hidup? Pertanyaan yang hingga saat ini belum dapat saya
temukan jawabannya. Ada yang mengartikan hidup itu tinggal bersama orang yang
kita sayang, ada pula yang mengatakan hidup itu menikmati secangkir kopi
sembari berbincang bersama kawan, di sisi lain ada yang mengatakan bahwa hidup
itu pilihan, hidup itu perjuangan, hidup itu mendapatkan apa yang kita
inginkan, hidup itu saling tolong menolong, dll. Saya setuju dengan semua
kata orang tentang hidup, dan itu benar. Setiap orang mengartikan kata hidup
berbeda-beda berdasar dari mana dia
berasal, dari apa yang dia alami, apa yang dia pelajari hingga dia menjadi
sesuatu.
Namun bagi saya hidup itu tidak mati,
tidak mati berfikir, tidak mati beraksi, tidak mati menciptakan ide baru, dan
tidak berdiam diri.
Memang tidak mudah untuk menentukan
arah hidup. Kita harus mencoba sesuatu yang baru, berkumpul dengan komunitas
baru, belajar berbagai ilmu yang baru untuk menghasilkan sesutu yang baru dan
bermanfaat.
Kita harus tetap bergerak walaupun
hanya sejengkal. Pohon sebesar apapun akan tetap tumbang dengan kegigihan yang
kita miliki, tembok sebesar apapun akan runtuh dengan semangat yang kita punya
dan lautan sebesar dan sedalam apapun dapat kita belah dengan tekat dan bakat
yang kita miliki.
235 kata di atas adalah awal dari
kebosanan saya karena terus berdiam diri dan tidak menghasilkan apapun.
No comments:
Post a Comment