Thursday, 16 April 2015



Wisuda tak seindah yang orang bayangkan. Menurut saya itu sangat membosankan. Tidak ada dosen yang mengajar di depan kelas, tidak ada kegiatan tulis menulis, apalagi mendengarkan. Otak kita tidak bekerja, hanya diam dan menunggu. Sangat membosankan…

Sesaat setelah wisuda saya mulai berfikir apa itu arti hidup? Pertanyaan yang hingga saat ini belum dapat saya temukan jawabannya. Ada yang mengartikan hidup itu tinggal bersama orang yang kita sayang, ada pula yang mengatakan hidup itu menikmati secangkir kopi sembari berbincang bersama kawan, di sisi lain ada yang mengatakan bahwa hidup itu pilihan, hidup itu perjuangan, hidup itu mendapatkan apa yang kita inginkan, hidup itu saling tolong menolong, dll. Saya setuju dengan semua kata orang tentang hidup, dan itu benar. Setiap orang mengartikan kata hidup berbeda-beda  berdasar dari mana dia berasal, dari apa yang dia alami, apa yang dia pelajari hingga dia menjadi sesuatu.

Namun bagi saya hidup itu tidak mati, tidak mati berfikir, tidak mati beraksi, tidak mati menciptakan ide baru, dan tidak berdiam diri.

Memang tidak mudah untuk menentukan arah hidup. Kita harus mencoba sesuatu yang baru, berkumpul dengan komunitas baru, belajar berbagai ilmu yang baru untuk menghasilkan sesutu yang baru dan bermanfaat.
Kita harus tetap bergerak walaupun hanya sejengkal. Pohon sebesar apapun akan tetap tumbang dengan kegigihan yang kita miliki, tembok sebesar apapun akan runtuh dengan semangat yang kita punya dan lautan sebesar dan sedalam apapun dapat kita belah dengan tekat dan bakat yang kita miliki.

235 kata di atas adalah awal dari kebosanan saya karena terus berdiam diri dan tidak menghasilkan apapun.

No comments:

Post a Comment