Tuesday, 14 May 2013
Thursday, 9 May 2013
Monday, 6 May 2013
my first short story " Sang kereta tiba pukul berapa…"
![]() |
| http://dahlia-ardhyagarini.blogspot.com/ |
Sembari menunggu cucian selesai, Kapten Semut berdiri termenung
menatap indahnya bulan purnama. Bulan merupakan salah satu bukti
akan kuasa Yang Maha Esa. Dalam situasi yang sunyi senyap berpadu
dengan suara jangkrik adalah saat di mana seseorang dapat
berimajinasi dengan leluasa. Begitu hal nya yang terjadi pada Sang Kapten pada waktu itu. Bersama dengan berhembusnya angin malam sontak
terbesit kenangan indah si stasiun Gambir 23 Desember 2013. Tempat di mana pertama kali Kapten bertemu dengan wanita yang telah menghangatkan dingin rindu dihatinya dan menghiasi
hari-harinya. Saat itu Kapten
hendak menunggu Sang kereta untuk kembali menuju kota dimana dia dilahirkan. Terlihat kerumunan orang yang duduk menikmati suatu alunan musik yang
berasal dari orkesta jalanan dengan gaya klasiknya yang dengan gagahnya menciptakan harmoni lagu
di antara bisingnya suara kereta dan juga pedagang asongan yang dengan pedenya
menjajakan dagangannya.
Kapten pun tertarik untuk bergabung menikmati permainan
musik para musisi jalanan itu. Dengan alat musik yang tidak sederhana , mereka
asik memainkan lagu-lagu lawas era 90an. Terbangun suasana di mana orang tua
kita dahulu sedang memadu kasih, dengan lagu-lagu lawas yang dibalut dengan
lirik yang memiliki makna yang mendalam dan mudah dilafalkan. Setelah melihat
keadaan sekitar, ternyata kebanyakan dari para penumpang yang menonton adalah
orang paruh baya. Sembari menunggu keretanya datang, mereka menikmati alunan
musik yang mengingatkan mereka muda dahulu. Bisa dibilang.......nostalgia.
Dari sekian banyak penonton ada salah satu dari mereka
yang menarik perhatian Sang Kapten. Yang tidak lain adalah seorang wanita dengan rambut hitam
tejuntai panjang, kulit sawo matang, dengan memangku tas laptopnya, juga dengan
enak menikmati roti boy di tangannya dengan
mata berbinar menikmati alunan musik
tersebut. Seperti tidak asing melihatnya dengan wajah Jawanya,
juga alis tebal, dan bulu mata yang
lentik yang mempercantik wajahnya.
Sembari menikmati musik, Kapten memberanikan diri untuk duduk di sebelah wanita
itu. Dengan gagah berani bak pahlawan dengan keris ditangan
dalam medan perang dia pun memulai
pembicaraan.
Suka
musik klasik juga? “ tanya Kapten.
Iya Mas, setiap balik pasti saya menyempatkan
untuk menonton mereka bermain musik” jawab wanita tersebut.
Mereka berdua pun mengobrol asik ke sana kemari mengenai lagu
klasik juga tentang alat musik yang para musisi itu gunakan. Kebetulan kapten
juga suka dengan sesemua yang berbau klasik.
Saking asiknya ngobrol ke sana kemari sampai-sampai
mereka lupa untuk saling mengenalkan diri. Sang
Puteri Pesona namanya. Dia adalah seorang
mahasiswi fakultas kedokteran semester akhir di salah satu universitas swasta
di Jakarta. Namanya terdengar sangat tidak asing di kuping Kapten.
Perbincangan pun berlanjut asik, walaupun mereka baru saling mengenal namun
terasa sudah lama kenal. Dan obrolan yang membuat menarik adalah ketika mereka
berdua menyadari bahwa mereka berdua menunggu kereta yang sama. Mereka pun
tertawa kecil ketika menyadari hal tersebut.
kok
bisa kebetulan gini ya? Jodoh kali ya kita.. hehe #gurau Sang Kapten.
ahh
mas bisa aja hehe #jawab Sang Puteri Pesona
dengan wajah malu.
Usut punya usut ternyata mereka pun berasal dari kota
yang sama(ants town). Memang jalan Tuhan siapa yang tahu, dua orang muda mudi dari asal
yang sama dapat bertemu di tempat yang tidak terduga dan situasi yang tidak
terduga pula.
Akhirnya Sang kereta yang mereka tunggu pun datang tepat pada pukul
21.00 WIB. Mereka pun masuk berjalan bersama masuk ke dalam gerbong yang sama
dan memutuskan untuk duduk berdampingan. Karena memang banyak kursi yang kosong. Obrolan di
antara mereka pun berlanjut asik sampai tak disadari bahwa gadis tersebut sudah
tertidur dengan kepala yang menyandar di bahu Kapten. Sepanjang perjalan, yang
ada dipikiran Kapten adalah harapan agar kereta yang ditungganginya
tidak cepat sampai tujuan. Sembari membaca novel Kapten pun sesekali mencuri pandang
untuk menikmati wajah ayu calon dokter itu, tidak satu lekukan pun dari
wajahnya yang dia lewati untuk di pandang. “Aji mumpung”
orang Jawa menyebutnya. Terpancar kelelahan dalam wajahnya, kelelahan seorang
mahasiswa yang harus menghafal begitu banyaknya istilah-istilah asing dalam dunia medis.
Sungguh indah kepulangan Kapten pada saat itu. Tepat di saat
dia
membutuhkan seorang gadis untuk mengisi hatinya yang sudah lama tak terisi
karena terlena oleh dunia kampus.
Kapten merasa pesimis untuk hal yang satu ini, yaitu
untuk kembali menjalin hubungan dengan seorang
wanita. Karena melihat dunia yang
realistis sekarang, di mana setiap orang tua yang memiliki anak seorang dokter
biasanya menginginkan anaknya untuk menjalin hubungan dengan dia yang satu
profesi yaitu dokter, misalnya. Bagaimana tidak seorang mahasiswa/mahasiswi kedokteran
sudah memiliki nilai lebih dibanding yang lain. Jalannya sudah lurus dengan
hanya diimbangi usaha yang mantap maka ujung jalan pun sudah terlihat dengan
jelas. Walaupun tidak menutup kemungkinan untuk mahasiswa/mahasiswi di jurusan
lain.
#cerita di atas benar-benar terjadi pada kawan-kawan sang kapten
“Tapi apa salahnya
untuk mencoba, toh semuanya juga bisa dicapai kalau ada kemauan” fikir Sang Kapten. Jaman
sekarang kalau kita hanya hidup sebagai followers dan tanpa innovasi maka kita tidak akan berkembang. Cobalah untuk menciptakan sesuatu yang
baru yang bisa membuat hidup kita memiliki nilai lebih.
Dengan jarak tempuh yang cukup lama akhirnya mereka
berdua pun tertidur karena perjalanan yang melelahkan. Dan saat mereka
terebangun ternyata Sang Matahari sudah mulai berani menampakkan wujudnya dengan
malu-malu. Mereka pun terbangun dengan muka malu-malu pula karena posisi tidur
mereka bak seorang pasangan yang memiliki hubungan lebih dari seorang teman
yang baru dikenal di stasiun Gambir beberapa jam yang lalu. Mereka pun bertukar
nomer Hp, untuk lebih saling mengenal satu sama lain nantinya.
Sang kereta tiba pukul berapa...
Jarum jam tak mau menunggu. Jam pun menunjukkan pukul 06.15 WIB, dan mereka
tiba di kota tercinta dengan pengalaman baru dan sahabat baru. Setelah turun
dari kereta yang membawa banyak celotehan dari keduanya, mereka berpisah untuk
pulang ke rumah masing-masing. Gadis itu, Pesona namanya sudah ditunggu oleh
kedua orang tuanya untuk di jemput pulang. Sedang Kapten memutuskan
untuk pulang menaiki becak sembari menikmati udara kota tercinta di pagi hari.
Perjalanan hubungan mereka pun tidak berakhir di situ saja.
Setelah pertemuannya dua jam di stasiun Gambir dan sembilan jam di gerbong
kereta mereka masih tetap saling berhubungan melalui sms dan telfon. Kemudian setelah
dua minggu saling mengenal lebih jauh satu sama lain dengan persamaan dan
perbedaan mereka, perjuangan Kapten pun menuai hasilnya. Pada tanggal 7 Januari 2014
mereka pun menjadi sepasang kekasih. Walaupun pada akhirnya mereka harus
menjalin hubungan mereka dengan terpisahkan jarak dan waktu. Disinilah kesetiaan cinta mereka di uji.
Bulan purnama pun sudah mulai malu untuk menampakkan
wujudnya, menandakan akan terbitnya Sang Matahari. Begitu juga Sang Kapten yang
harus segera menjemur pakaiannya yang telah selesai di cuci dan bergegas tidur.
“Selamat
pagi Sang Puteri Pesona” pesan
yang selalu kapten ucapkan untuk kekasihnya untuk menyambut harinya yang penuh pesona.
cerita pendek di atas hanyalah
fiktif belaka,dibuat untuk memeriahkan festival of Indonesia (FOI) PPI UUM
2013 . apabila ada kesamaan nama tokoh dan tempat itu menggelikan.
Friday, 3 May 2013
Thursday, 2 May 2013
a word a thousand meaning
Seusai
mencukur jenggot yang tumbuh begitu pesat setara dengan pertumbuhan rakyat
Indonesia. Suatu pertanyaan timbul di benak saya.
Apakah
iri itu tidak baik?
Kalau
jawabannya iya, lalu kenapa?
Merasa kurang senang
dengan kelebihan orang lain, mungkin inilah definisi dari kata iri.
Namun
bukankah hal semacam itu wajar – wajar saja, selama kita tidak merugikan orang
lain. Bukankah itu bisa juga disebut sebagai self-motivation.
Bagaimana
menurut kalian?
Apakah
ketika kita melihat orang-orang sukses di sekitar kita, kita tidak merasa iri?
Apakah
kita tidak ingin menjadi sukses dan kaya seperti mereka?
Menurut
saya, iri itu perlu dan wajib hukumnya bagi kita yang ingin menjadi lebih baik.
Iri juga bisa dikatakan sebagai salah satu step untuk kita dalam mencapai
cita-cita. Tanpa adanya rasa ingin maka kita tidak akan tergugah untuk bergerak
maju. Setelah merasa iri dengan apa yang orang lain capai maka akan timbul rasa
penasaran dalam diri kita, dalam kata lain iri dapat membangkitkan rasa
penasaran ( arouse the curiosity) yang
sangat yang dapat membuat kita mau untuk mencapai yang orang lain telah capai.
“Dia
bisa mengapa kita tidak”
Siapa
orangnya yang tidak mau seterkenal Bill Gate yang kabarnya kuliah pun tidak
lulus. Siapa orangnya yang tidak mau seperti David Beckam yang di puja-puja
wanita. Siapa orangnya yang tidak mau secantik Anisa Pohan yang sekarang menjadi
istri dari anak seorang Presiden Indonesia. Siapa orangnya yang tidak mau se
sukses Maudy Ayunda yang di usianya yang masih muda dapat di bilang sukses
dalam bidang entertainment. Kita wajib iri dalam hal semacam itu. Mungkin kata iri dapat kita percantik menjadi
ingin seperti.
Coba kita bandingkan kalimat di bawah ini:
·
Aku iri dengan tetangga sebelah yang anaknya sukses.
ΓΌ Aku
ingin seperti tetangga sebelah yang
anaknya sukses.
Jadi
buatlah kesimpulan sendiri tentang satu kata yang memiliki banyak makna itu. Bukan suatu hal yang perlu diperdebatkan. Namun, jadikanlah kesimpulan itu sebagai pedoman dalam diri.
Good morning and have a nice Friday.
Sunday, 21 April 2013
Wangi Sepet Legi Kentel (wasgitel)
“Jangan bicara soal cinta, aku ga mau
lagi mengenal cinta, makan tuh cinta, cinta itu bulshitt shitt shittt” ucapan
seseorang karena gagal menjalin hubungan dengan cinta. #grin
Yah jangan nyerah dulu dong, orang
Kartika Sari Devi juga bisa batalin akad nikahnya buat cintanya ama Tora Sudiro
di film Roman Picisan. #sosweet
Kata-kata terdengar lucu
kadang-kadang, walaupun kita juga pernah mengucapkannya. Dan itu pasti!! Sudah pernah
kami ucapkan, apabila kita ingin merubah bangsa kita dengan beragamnya suku dan
budaya yang ada mulailah merubah diri kita terlebih dahulu. Begitu juga dengan
cinta, cintailah diri kita, apa yang kita punya, apa yang melekat pada tubuh
kita, apa kekurangan kita, dan juga apa kelebihan kita. Susah pasti susah. Bagaimana
tidak, setiap orang tidak mau menjadi dirinya sendiri bukan? Kita lebih memilih
mengikuti semua semua yang ada pada diri tokoh idola kita mungkin. Ya jelas ga
bisa toh kita buat diri kita menjadi orang lain. Ya kan …. Ya kan…. Ya dong….
Ya uda deh kalo gitu “Let it flow”
aja dehh….
Nyang ini agak keren dikit ni
kata-kata gagal cinta, agak keminggris gimana gitu ya. Tapi bukankah bermacam-macam
kata yang terucap tetap memiliki arti dan tujuan yang sama. Biarkan mengalir
seperti air, benar kata-kata putus asa yang sangat bijaksana bukan kawan? Apalagi
terucap dari salah satu kawan kita yang mencoba menghibur kita, Si doi benar-benar
bagaikan Peri yang turun dari kayangan dengan jubah putih dan kereta kencana. Namun
ketika dia berbicara ternyata mulutnya bau. Hehe Gapapa yang penting niatnya
baik untuk menghibur kita.
HEH penulis kamu tau apa si
tentang cinta? #tanyapembacakalauada
Waduh gini Mba/Mas yang budiman,
Maaf sebelumnya, bukannya kami mau
menggurui atau sok tau. Sejujurnya kami juga hanya meraba-raba awalnya, setelah
meraba-raba terasa bentuknya yang sintal,bulat,bikin ngiler, suka ga sengaja
nyenggol, namun hati-hati untuk sengaja menyentuhnya!! Bisa-bisa bukannya dapet
untung malah buntung. Itu mungkin yang bisa kami analogikan tentang /akan/
definisi/ciri-ciri/bentuk kata yang luar biasa yang memaksa semua orang untuk
menjamahnya dan dengan tidak mudah iaitu CINTA.
Kapten said " Cinta itu Wasgitel" .
Friday, 19 April 2013
Dibilang lebay ya ora papa
Salah
satu kendala seseorang yang ingin menulis adalah bagaimana dan dari mana akan
memulai topik yang akan dibicarakan. Seperti halnya seseorang memulai hobby nya
maka akan butuh perjuangan yang sangat, namun ketika dia sudah menemui titik
nyaman maka dia akan enggan untuk mengakhiri nya.
Hari
ini (19 April 2013) kapten mendengar kabar yang kurang mengenakan untuk ke
sekian kalinya selama dia merantau. Situasi seperti ini adalah salah satu tidak
enaknya merantau, di saat mendengar situasi yang darurat kita tidak bisa
berbuat apa-apa, kita hanya bisa diam dan berdoa, berharap semuanya akan
baik-baik saja. Meneteskan air mata adalah halal pada situasi semacam itu,
namun sebagai seorang lelaki kita malu untuk hal tersebut. Sebagai gantinya
hati kita yang menangis dan perlu anda ketahui itu sangat menyiksa.
Hanya
jarak beberapa hari setelah kepulangan kapten kembali ke negeri semut berita
tidak mengenakkan kembali datang.
Tepatnya
Jumat, 29 Maret 2013 kapten kehilangan salah satu orang kesayangannya yang
tidak lain adalah seorang Sersan Perwira TNI AD yang ikut berjuang, berperang
membela tanah air mempertahan kan Timor Timur dengan gagah berani saat itu.
Sang Pahlawan telah tutup usia pada umur 75 tahun. Tepat sebulan setelah beliau
merayakan ulang tahun bersama seluruh keluarga tercinta. Apa boleh buat Sang
Maha Esa sudah berkehendak untuk duduk di singgasana ternyaman.
Kapten
sangat terpukul dengan berita tersebut, bahkan untuk melihat wajah gagah
beraninya untuk terakhir kalinya pun tak bisa. Akhirnya kapten memutuskan untuk
kembali ke tanah air sebagai wujud hormat nya terhadap seorang pahlawan,
pahlawan bagi negrinya dan bagi diri kapten. Seminggu setelah wafatnya beliau
kapten tiba di tanah air tepatnya Kamis, 4 April 2013. Jogja sebagai kota
tempat pertama kali kapten menginjakkan kakinya di tanah air tercinta. Bukan kebahagian
yang mengantarkan kapten untuk kembali, namun sebaliknya.
Semalam
di Jogja kapten manfaatkan untuk berkumpul, berceloteh dengan teman-teman
kapten yang ada di sana. Keesokan harinya kapten pun melanjutkan perjalanan
pulang menuju kota Satria. Sesampainya di sana kapten langsung menuju rumah
Sang Pahlawan. Dengan perasaan yang bercampur aduk, setibanya di sana kapten
langsung memeluk istri Sang Palawan. Ari mata pun tak bisa terbendung pada saat
itu, sungguh terasa suasana yang sangat berbeda tanpa adanya Sang Pahlawan di
rumahnya. Teringat masa-masa yang indah ketika tiap kali kapten berkunjung kerumah beliau, dan beliau
menyambutnya dengan baju batik kesayangannya dan sarung lorek lambang TNI juga
kopyah putih pemberian Ayah kapten. Ataupun kadang kala beliau sedang berada
dalam kamar sambil mendengarkan radio kesayangannya, dan di keadaan lain di saat
beliau ada pada ruang kerjanya sedang mengetik sesuatu menggunakan mesin ketik
bersejarah miliknya. Ataupun di sela-sela badha Magrib dan Isya ketika beliau
dengan indah melafazkan ayat-ayat Al-Quran.
Namun
kini kamar beliau telah sepi penghuni, begitu juga dengan ruang kerja beliau,
ayat-ayat Al-Quran pun sudah tidak terdengar lagi darinya. “ Tahun ini aku kan
wisuda mbah, kok embah ga mau liat aku wisuda sih ” eluh Kapten.
Susah
memang merelakan seseorang yang kita sayang untuk pergi selamanya, namun
sebagai umat Islam kita di ajarkan untuk ikhlas menerimanya. Tersenyum lah kapten
masih banyak yang membutuhkan senyuman mu daripada air mata semut. Hehe
Subscribe to:
Posts (Atom)
