![]() |
| http://dahlia-ardhyagarini.blogspot.com/ |
Sembari menunggu cucian selesai, Kapten Semut berdiri termenung
menatap indahnya bulan purnama. Bulan merupakan salah satu bukti
akan kuasa Yang Maha Esa. Dalam situasi yang sunyi senyap berpadu
dengan suara jangkrik adalah saat di mana seseorang dapat
berimajinasi dengan leluasa. Begitu hal nya yang terjadi pada Sang Kapten pada waktu itu. Bersama dengan berhembusnya angin malam sontak
terbesit kenangan indah si stasiun Gambir 23 Desember 2013. Tempat di mana pertama kali Kapten bertemu dengan wanita yang telah menghangatkan dingin rindu dihatinya dan menghiasi
hari-harinya. Saat itu Kapten
hendak menunggu Sang kereta untuk kembali menuju kota dimana dia dilahirkan. Terlihat kerumunan orang yang duduk menikmati suatu alunan musik yang
berasal dari orkesta jalanan dengan gaya klasiknya yang dengan gagahnya menciptakan harmoni lagu
di antara bisingnya suara kereta dan juga pedagang asongan yang dengan pedenya
menjajakan dagangannya.
Kapten pun tertarik untuk bergabung menikmati permainan
musik para musisi jalanan itu. Dengan alat musik yang tidak sederhana , mereka
asik memainkan lagu-lagu lawas era 90an. Terbangun suasana di mana orang tua
kita dahulu sedang memadu kasih, dengan lagu-lagu lawas yang dibalut dengan
lirik yang memiliki makna yang mendalam dan mudah dilafalkan. Setelah melihat
keadaan sekitar, ternyata kebanyakan dari para penumpang yang menonton adalah
orang paruh baya. Sembari menunggu keretanya datang, mereka menikmati alunan
musik yang mengingatkan mereka muda dahulu. Bisa dibilang.......nostalgia.
Dari sekian banyak penonton ada salah satu dari mereka
yang menarik perhatian Sang Kapten. Yang tidak lain adalah seorang wanita dengan rambut hitam
tejuntai panjang, kulit sawo matang, dengan memangku tas laptopnya, juga dengan
enak menikmati roti boy di tangannya dengan
mata berbinar menikmati alunan musik
tersebut. Seperti tidak asing melihatnya dengan wajah Jawanya,
juga alis tebal, dan bulu mata yang
lentik yang mempercantik wajahnya.
Sembari menikmati musik, Kapten memberanikan diri untuk duduk di sebelah wanita
itu. Dengan gagah berani bak pahlawan dengan keris ditangan
dalam medan perang dia pun memulai
pembicaraan.
Suka
musik klasik juga? “ tanya Kapten.
Iya Mas, setiap balik pasti saya menyempatkan
untuk menonton mereka bermain musik” jawab wanita tersebut.
Mereka berdua pun mengobrol asik ke sana kemari mengenai lagu
klasik juga tentang alat musik yang para musisi itu gunakan. Kebetulan kapten
juga suka dengan sesemua yang berbau klasik.
Saking asiknya ngobrol ke sana kemari sampai-sampai
mereka lupa untuk saling mengenalkan diri. Sang
Puteri Pesona namanya. Dia adalah seorang
mahasiswi fakultas kedokteran semester akhir di salah satu universitas swasta
di Jakarta. Namanya terdengar sangat tidak asing di kuping Kapten.
Perbincangan pun berlanjut asik, walaupun mereka baru saling mengenal namun
terasa sudah lama kenal. Dan obrolan yang membuat menarik adalah ketika mereka
berdua menyadari bahwa mereka berdua menunggu kereta yang sama. Mereka pun
tertawa kecil ketika menyadari hal tersebut.
kok
bisa kebetulan gini ya? Jodoh kali ya kita.. hehe #gurau Sang Kapten.
ahh
mas bisa aja hehe #jawab Sang Puteri Pesona
dengan wajah malu.
Usut punya usut ternyata mereka pun berasal dari kota
yang sama(ants town). Memang jalan Tuhan siapa yang tahu, dua orang muda mudi dari asal
yang sama dapat bertemu di tempat yang tidak terduga dan situasi yang tidak
terduga pula.
Akhirnya Sang kereta yang mereka tunggu pun datang tepat pada pukul
21.00 WIB. Mereka pun masuk berjalan bersama masuk ke dalam gerbong yang sama
dan memutuskan untuk duduk berdampingan. Karena memang banyak kursi yang kosong. Obrolan di
antara mereka pun berlanjut asik sampai tak disadari bahwa gadis tersebut sudah
tertidur dengan kepala yang menyandar di bahu Kapten. Sepanjang perjalan, yang
ada dipikiran Kapten adalah harapan agar kereta yang ditungganginya
tidak cepat sampai tujuan. Sembari membaca novel Kapten pun sesekali mencuri pandang
untuk menikmati wajah ayu calon dokter itu, tidak satu lekukan pun dari
wajahnya yang dia lewati untuk di pandang. “Aji mumpung”
orang Jawa menyebutnya. Terpancar kelelahan dalam wajahnya, kelelahan seorang
mahasiswa yang harus menghafal begitu banyaknya istilah-istilah asing dalam dunia medis.
Sungguh indah kepulangan Kapten pada saat itu. Tepat di saat
dia
membutuhkan seorang gadis untuk mengisi hatinya yang sudah lama tak terisi
karena terlena oleh dunia kampus.
Kapten merasa pesimis untuk hal yang satu ini, yaitu
untuk kembali menjalin hubungan dengan seorang
wanita. Karena melihat dunia yang
realistis sekarang, di mana setiap orang tua yang memiliki anak seorang dokter
biasanya menginginkan anaknya untuk menjalin hubungan dengan dia yang satu
profesi yaitu dokter, misalnya. Bagaimana tidak seorang mahasiswa/mahasiswi kedokteran
sudah memiliki nilai lebih dibanding yang lain. Jalannya sudah lurus dengan
hanya diimbangi usaha yang mantap maka ujung jalan pun sudah terlihat dengan
jelas. Walaupun tidak menutup kemungkinan untuk mahasiswa/mahasiswi di jurusan
lain.
#cerita di atas benar-benar terjadi pada kawan-kawan sang kapten
“Tapi apa salahnya
untuk mencoba, toh semuanya juga bisa dicapai kalau ada kemauan” fikir Sang Kapten. Jaman
sekarang kalau kita hanya hidup sebagai followers dan tanpa innovasi maka kita tidak akan berkembang. Cobalah untuk menciptakan sesuatu yang
baru yang bisa membuat hidup kita memiliki nilai lebih.
Dengan jarak tempuh yang cukup lama akhirnya mereka
berdua pun tertidur karena perjalanan yang melelahkan. Dan saat mereka
terebangun ternyata Sang Matahari sudah mulai berani menampakkan wujudnya dengan
malu-malu. Mereka pun terbangun dengan muka malu-malu pula karena posisi tidur
mereka bak seorang pasangan yang memiliki hubungan lebih dari seorang teman
yang baru dikenal di stasiun Gambir beberapa jam yang lalu. Mereka pun bertukar
nomer Hp, untuk lebih saling mengenal satu sama lain nantinya.
Sang kereta tiba pukul berapa...
Jarum jam tak mau menunggu. Jam pun menunjukkan pukul 06.15 WIB, dan mereka
tiba di kota tercinta dengan pengalaman baru dan sahabat baru. Setelah turun
dari kereta yang membawa banyak celotehan dari keduanya, mereka berpisah untuk
pulang ke rumah masing-masing. Gadis itu, Pesona namanya sudah ditunggu oleh
kedua orang tuanya untuk di jemput pulang. Sedang Kapten memutuskan
untuk pulang menaiki becak sembari menikmati udara kota tercinta di pagi hari.
Perjalanan hubungan mereka pun tidak berakhir di situ saja.
Setelah pertemuannya dua jam di stasiun Gambir dan sembilan jam di gerbong
kereta mereka masih tetap saling berhubungan melalui sms dan telfon. Kemudian setelah
dua minggu saling mengenal lebih jauh satu sama lain dengan persamaan dan
perbedaan mereka, perjuangan Kapten pun menuai hasilnya. Pada tanggal 7 Januari 2014
mereka pun menjadi sepasang kekasih. Walaupun pada akhirnya mereka harus
menjalin hubungan mereka dengan terpisahkan jarak dan waktu. Disinilah kesetiaan cinta mereka di uji.
Bulan purnama pun sudah mulai malu untuk menampakkan
wujudnya, menandakan akan terbitnya Sang Matahari. Begitu juga Sang Kapten yang
harus segera menjemur pakaiannya yang telah selesai di cuci dan bergegas tidur.
“Selamat
pagi Sang Puteri Pesona” pesan
yang selalu kapten ucapkan untuk kekasihnya untuk menyambut harinya yang penuh pesona.
cerita pendek di atas hanyalah
fiktif belaka,dibuat untuk memeriahkan festival of Indonesia (FOI) PPI UUM
2013 . apabila ada kesamaan nama tokoh dan tempat itu menggelikan.

No comments:
Post a Comment