Monday, 6 May 2013

my first short story " Sang kereta tiba pukul berapa…"

http://dahlia-ardhyagarini.blogspot.com/

    Sembari menunggu cucian selesai, Kapten Semut berdiri termenung menatap indahnya bulan purnama. Bulan merupakan salah satu bukti akan kuasa Yang Maha Esa. Dalam situasi yang sunyi senyap berpadu dengan suara jangkrik adalah saat di mana seseorang dapat berimajinasi dengan leluasa. Begitu hal nya yang terjadi pada Sang Kapten pada waktu itu. Bersama dengan berhembusnya angin malam sontak terbesit kenangan indah si stasiun Gambir 23 Desember 2013. Tempat di mana pertama kali Kapten bertemu dengan wanita yang telah menghangatkan dingin rindu dihatinya dan menghiasi hari-harinya. Saat itu Kapten hendak menunggu Sang kereta untuk kembali menuju kota dimana dia dilahirkan. Terlihat kerumunan orang yang duduk menikmati suatu alunan musik yang berasal dari orkesta jalanan dengan gaya klasiknya yang dengan gagahnya menciptakan harmoni lagu di antara bisingnya suara kereta dan juga pedagang asongan yang dengan pedenya menjajakan dagangannya.

Kapten pun tertarik untuk bergabung menikmati permainan musik para musisi jalanan itu. Dengan alat musik yang tidak sederhana , mereka asik memainkan lagu-lagu lawas era 90an. Terbangun suasana di mana orang tua kita dahulu sedang memadu kasih, dengan lagu-lagu lawas yang dibalut dengan lirik yang memiliki makna yang mendalam dan mudah dilafalkan. Setelah melihat keadaan sekitar, ternyata kebanyakan dari para penumpang yang menonton adalah orang paruh baya. Sembari menunggu keretanya datang, mereka menikmati alunan musik yang mengingatkan mereka muda dahulu. Bisa dibilang.......nostalgia.

Dari sekian banyak penonton ada salah satu dari mereka yang menarik perhatian Sang Kapten. Yang tidak lain adalah seorang wanita dengan rambut hitam tejuntai panjang, kulit sawo matang, dengan memangku tas laptopnya, juga dengan enak menikmati roti boy di tangannya dengan mata berbinar menikmati alunan musik tersebut. Seperti tidak asing melihatnya dengan wajah Jawanya, juga alis tebal, dan bulu mata yang lentik yang mempercantik wajahnya. Sembari menikmati musik, Kapten memberanikan diri untuk duduk di sebelah wanita itu. Dengan gagah berani bak pahlawan dengan keris ditangan dalam medan perang dia pun memulai pembicaraan.

Suka musik klasik juga? “ tanya Kapten.

 Iya Mas, setiap balik pasti saya menyempatkan untuk menonton mereka bermain musik” jawab wanita tersebut.

Mereka berdua pun mengobrol asik ke sana kemari mengenai lagu klasik juga tentang alat musik yang para musisi itu gunakan. Kebetulan kapten juga suka dengan sesemua yang berbau klasik.

Saking asiknya ngobrol ke sana kemari sampai-sampai mereka lupa untuk saling mengenalkan diri. Sang Puteri Pesona namanya. Dia adalah seorang mahasiswi fakultas kedokteran semester akhir di salah satu universitas swasta di Jakarta. Namanya terdengar sangat tidak asing di kuping Kapten. Perbincangan pun berlanjut asik, walaupun mereka baru saling mengenal namun terasa sudah lama kenal. Dan obrolan yang membuat menarik adalah ketika mereka berdua menyadari bahwa mereka berdua menunggu kereta yang sama. Mereka pun tertawa kecil ketika menyadari hal tersebut.

kok bisa kebetulan gini ya? Jodoh kali ya kita.. hehe #gurau Sang Kapten.

ahh mas bisa aja hehe #jawab Sang Puteri Pesona dengan wajah malu.

Mereka pun kembali tertawa lepas #grin

Usut punya usut ternyata mereka pun berasal dari kota yang sama(ants town). Memang jalan Tuhan siapa yang tahu, dua orang muda mudi dari asal yang sama dapat bertemu di tempat yang tidak terduga dan situasi yang tidak terduga pula.

Akhirnya Sang kereta yang mereka tunggu pun datang tepat pada pukul 21.00 WIB. Mereka pun masuk berjalan bersama masuk ke dalam gerbong yang sama dan memutuskan untuk duduk berdampingan. Karena memang banyak kursi yang kosong. Obrolan di antara mereka pun berlanjut asik sampai tak disadari bahwa gadis tersebut sudah tertidur dengan kepala yang menyandar di bahu Kapten. Sepanjang perjalan, yang ada dipikiran Kapten adalah harapan agar kereta yang ditungganginya tidak cepat sampai tujuan. Sembari membaca novel Kapten pun sesekali mencuri pandang untuk menikmati wajah ayu calon dokter itu, tidak satu lekukan pun dari wajahnya yang dia lewati untuk di pandang. Aji mumpung orang Jawa menyebutnya. Terpancar kelelahan dalam wajahnya, kelelahan seorang mahasiswa yang harus menghafal begitu banyaknya  istilah-istilah asing dalam dunia medis.

Sungguh indah kepulangan Kapten pada saat itu. Tepat di saat dia membutuhkan seorang gadis untuk mengisi hatinya yang sudah lama tak terisi karena terlena oleh dunia kampus.

Kapten merasa pesimis untuk hal yang satu ini, yaitu untuk kembali menjalin hubungan dengan seorang wanita. Karena melihat dunia yang realistis sekarang, di mana setiap orang tua yang memiliki anak seorang dokter biasanya menginginkan anaknya untuk menjalin hubungan dengan dia yang satu profesi yaitu dokter, misalnya. Bagaimana tidak seorang mahasiswa/mahasiswi kedokteran sudah memiliki nilai lebih dibanding yang lain. Jalannya sudah lurus dengan hanya diimbangi usaha yang mantap maka ujung jalan pun sudah terlihat dengan jelas. Walaupun tidak menutup kemungkinan untuk mahasiswa/mahasiswi di jurusan lain. 
#cerita di atas benar-benar terjadi pada kawan-kawan sang kapten

Tapi apa salahnya untuk mencoba, toh semuanya juga bisa dicapai kalau ada kemauan” fikir Sang Kapten. Jaman sekarang kalau kita hanya hidup sebagai followers dan tanpa innovasi maka kita tidak akan berkembang. Cobalah untuk menciptakan sesuatu yang baru yang bisa membuat hidup kita memiliki nilai lebih.

Dengan jarak tempuh yang cukup lama akhirnya mereka berdua pun tertidur karena perjalanan yang melelahkan. Dan saat mereka terebangun ternyata Sang Matahari sudah mulai berani menampakkan wujudnya dengan malu-malu. Mereka pun terbangun dengan muka malu-malu pula karena posisi tidur mereka bak seorang pasangan yang memiliki hubungan lebih dari seorang teman yang baru dikenal di stasiun Gambir beberapa jam yang lalu. Mereka pun bertukar nomer Hp, untuk lebih saling mengenal satu sama lain nantinya.

Sang kereta tiba pukul berapa...

Jarum jam tak mau menunggu. Jam pun menunjukkan pukul 06.15 WIB, dan mereka tiba di kota tercinta dengan pengalaman baru dan sahabat baru. Setelah turun dari kereta yang membawa banyak celotehan dari keduanya, mereka berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing. Gadis itu, Pesona namanya sudah ditunggu oleh kedua orang tuanya untuk di jemput pulang. Sedang Kapten memutuskan untuk pulang menaiki becak sembari menikmati udara kota tercinta di pagi hari.

Perjalanan hubungan mereka pun tidak berakhir di situ saja. Setelah pertemuannya dua jam di stasiun Gambir dan sembilan jam di gerbong kereta mereka masih tetap saling berhubungan melalui sms dan telfon. Kemudian setelah dua minggu saling mengenal lebih jauh satu sama lain dengan persamaan dan perbedaan mereka, perjuangan Kapten pun menuai hasilnya. Pada tanggal 7 Januari 2014 mereka pun menjadi sepasang kekasih. Walaupun pada akhirnya mereka harus menjalin hubungan mereka dengan terpisahkan jarak dan waktu. Disinilah kesetiaan cinta mereka di uji.

Bulan purnama pun sudah mulai malu untuk menampakkan wujudnya, menandakan akan terbitnya Sang Matahari. Begitu juga Sang Kapten yang harus segera menjemur pakaiannya yang telah selesai di cuci dan bergegas tidur.

“Selamat pagi Sang Puteri Pesona” pesan yang selalu kapten ucapkan untuk kekasihnya untuk menyambut harinya yang penuh pesona.



cerita pendek di atas hanyalah fiktif belaka,dibuat untuk memeriahkan festival of Indonesia (FOI) PPI UUM 2013 . apabila ada kesamaan nama tokoh dan tempat itu menggelikan. 


No comments:

Post a Comment