Salah
satu kendala seseorang yang ingin menulis adalah bagaimana dan dari mana akan
memulai topik yang akan dibicarakan. Seperti halnya seseorang memulai hobby nya
maka akan butuh perjuangan yang sangat, namun ketika dia sudah menemui titik
nyaman maka dia akan enggan untuk mengakhiri nya.
Hari
ini (19 April 2013) kapten mendengar kabar yang kurang mengenakan untuk ke
sekian kalinya selama dia merantau. Situasi seperti ini adalah salah satu tidak
enaknya merantau, di saat mendengar situasi yang darurat kita tidak bisa
berbuat apa-apa, kita hanya bisa diam dan berdoa, berharap semuanya akan
baik-baik saja. Meneteskan air mata adalah halal pada situasi semacam itu,
namun sebagai seorang lelaki kita malu untuk hal tersebut. Sebagai gantinya
hati kita yang menangis dan perlu anda ketahui itu sangat menyiksa.
Hanya
jarak beberapa hari setelah kepulangan kapten kembali ke negeri semut berita
tidak mengenakkan kembali datang.
Tepatnya
Jumat, 29 Maret 2013 kapten kehilangan salah satu orang kesayangannya yang
tidak lain adalah seorang Sersan Perwira TNI AD yang ikut berjuang, berperang
membela tanah air mempertahan kan Timor Timur dengan gagah berani saat itu.
Sang Pahlawan telah tutup usia pada umur 75 tahun. Tepat sebulan setelah beliau
merayakan ulang tahun bersama seluruh keluarga tercinta. Apa boleh buat Sang
Maha Esa sudah berkehendak untuk duduk di singgasana ternyaman.
Kapten
sangat terpukul dengan berita tersebut, bahkan untuk melihat wajah gagah
beraninya untuk terakhir kalinya pun tak bisa. Akhirnya kapten memutuskan untuk
kembali ke tanah air sebagai wujud hormat nya terhadap seorang pahlawan,
pahlawan bagi negrinya dan bagi diri kapten. Seminggu setelah wafatnya beliau
kapten tiba di tanah air tepatnya Kamis, 4 April 2013. Jogja sebagai kota
tempat pertama kali kapten menginjakkan kakinya di tanah air tercinta. Bukan kebahagian
yang mengantarkan kapten untuk kembali, namun sebaliknya.
Semalam
di Jogja kapten manfaatkan untuk berkumpul, berceloteh dengan teman-teman
kapten yang ada di sana. Keesokan harinya kapten pun melanjutkan perjalanan
pulang menuju kota Satria. Sesampainya di sana kapten langsung menuju rumah
Sang Pahlawan. Dengan perasaan yang bercampur aduk, setibanya di sana kapten
langsung memeluk istri Sang Palawan. Ari mata pun tak bisa terbendung pada saat
itu, sungguh terasa suasana yang sangat berbeda tanpa adanya Sang Pahlawan di
rumahnya. Teringat masa-masa yang indah ketika tiap kali kapten berkunjung kerumah beliau, dan beliau
menyambutnya dengan baju batik kesayangannya dan sarung lorek lambang TNI juga
kopyah putih pemberian Ayah kapten. Ataupun kadang kala beliau sedang berada
dalam kamar sambil mendengarkan radio kesayangannya, dan di keadaan lain di saat
beliau ada pada ruang kerjanya sedang mengetik sesuatu menggunakan mesin ketik
bersejarah miliknya. Ataupun di sela-sela badha Magrib dan Isya ketika beliau
dengan indah melafazkan ayat-ayat Al-Quran.
Namun
kini kamar beliau telah sepi penghuni, begitu juga dengan ruang kerja beliau,
ayat-ayat Al-Quran pun sudah tidak terdengar lagi darinya. “ Tahun ini aku kan
wisuda mbah, kok embah ga mau liat aku wisuda sih ” eluh Kapten.
Susah
memang merelakan seseorang yang kita sayang untuk pergi selamanya, namun
sebagai umat Islam kita di ajarkan untuk ikhlas menerimanya. Tersenyum lah kapten
masih banyak yang membutuhkan senyuman mu daripada air mata semut. Hehe
No comments:
Post a Comment