Masa kanak-kanak adalah masa yang tak terlupakan. Masih ingatkah kalian bagaimana masa kecil kalian, dimana kedua orang tua kita selalu mengajari dan membertitahu kita mana hal yang boleh kita lakukan dan mana hal yang tidak boleh kita lakukan. Walaupun pada akhirnya semua semua yang ingin kita lakukan pasti dilarang oleg beliau. Sebenarnya bukan maksud mereka melarang, namun ada waktu yang tepat , kapan dan dimana kita harus melakukan hal yang ingin kita lakukan. Semua yang orangtua kita lakukan tentunya mereka ingin yang terbaik buat anaknya.
Saat umur kita 6 tahun, saat kita ditanya mau jadi apa
kalo besar? Pasti jawaban Pilot, dokter, atau presiden. Saat umur kita beranjak
9 tahun dan kita sudah banyak terkena polusi dari social media, jawaban kita “
aku mau jadi Superman untuk pria dan yang wanita ingin jadi Barbie”. Begitulah
seterusnya, saat 11 tahun “ Aku pengen minggat dari rumah, mama papa ga
ngertiin kita”, 12 13 14 15 tahun “ kita ingin menjadi sesuatu berdasarkan
hobby kita”. Beranjak dewasa kitapun bisa mengukur kemampuan kita dengan apa
yang kita inginkan. Sampai akhirnya di umur kita yang berkepala dua ini
terbuktilah impian-impian kita dari kecil sampai sekarang mana yang bisa
terbukti dan terjadi. Selamat buat kawan-kawan yang sudah terpacai impiannya,
walaupun masih dalam proses. Tidak pernah kita sadari bahwa masa muda kita,
masa yang berapi-api kata Rhoma Irama perlahan hilang atau memang sudah hilang.
Sekarang saatnya kita fokuskan kepada suatu tujuan yang sejak kecil sudah kita
impi-impikan. Dari mulai berpakaianpun kita sudah terlihat berbeda, dari cara
kita bicara, dari cara kita bertindak dengan banyak pertimbangan, bahkan untuk
mendekati gadis yang kita inginkan kita pun berfikir seribu kali hanya untuk
berkenalan apakah wanita juga seperti itu?.
Terkadang kita merasa bingung, kenapa cara berfikir
kita berubah secara tidak kita sadari. Dari yang asal bertindak sampai susah
untuk bergerak, dari yang asal ceplos bicara menjadi berhati-hati, dari yang
peduli amat menjadi sangat peduli, semuanya pasti berubah. Namun, jangan
lupakan masa kecil kita, dengan kepolosan kita, dengan kejujuran kita, ini yang
harus kita pertahankan sampai kapanpun. Jadi tidak semua yang ada dalam diri
anak kecil harus kita rubah, kejujuran itulah kunci kita untuk meraih mimpi
kita.
Masih ingatkah kita saat ada teman yang kencing dikelas
atau berak dikelas dan kita semua mengejek dia sampai menangis. Yah, itulah
anak kecil dia tidak pernah menutup-nutupi apa yang akan dia lakukan bahkan
untuk hal yang negative sekalipun. Anak kecil aja mau ngaku masa maling,
koruptor, pembunuh yang sudah jelas-jelas tertangkap basah ennga mau ngaku
(kalah dong sama anak kecil).
Apakah kalian juga merindukan saat dimana kita
berangkat sekolah di antar orangtua kita, entah dalam keadaan hujan atau panas
sekalipun beliau dengan sigap dan tulus akan bergegas untuk mengantarkan anak
kesayangan meraka agar selamat sampai sekolah. Dan agar mereka tidak kelaparan,
sebelum berangkat mama atau papa kita menyuapi kita sarapan pagi langsung dari
tangannya. Tiada tandingannya bukan rasa nikmat yang kita dapatkan saat sesuap
dua suap nasi yang masuk dalam mulut kita sambil kita berlari kesana kemari saat di suapi.
Kerinduan pada orangtua mungkin yang tergambar dalam
cerita diatas. Keadaan dimana orangtua kita masih segar bugar untuk melakukan
aktifitas, keadaan dimana beliau masih dapat memakan semua makanan tanpa
dilarang, keadaan dimana beliau dapat melakukan semua hal yang saat sekarang
ini kita belum bisa melakukannya atau masih belajar.
Teringat saat mengenyam bangku SMP, tepatnya saat
mengikuti ESQ sebelum menghadapi UN. Dimana Sang Speaker becerita kesana kemari
dengan nada sedih dan membuat kita takut bahkan banyak yang menangis. Dan saat
banyak dari kita yang mengis Sang Speaker merasa berhasil dengan Good Will yang
mereka miliki. Bukan dia yang membuat kita menangis! Back sound lagu Bunda
karya Melly G. lah yang membuat kita menangis. Lagu itu membuat kita teringat
akan masa kecil kita tentang sosok Ibu yang tak tergantikan. Dan air mata kita
bukan air mata kesedihan,namun air mata rasa terima kasih yang amat dalam yang
belum kita buktikan kepada Sang Ibu pada saat itu.
Entah berapa puluh juta bahkan berapa ratus juta
mungkin berapa milyar uang yang orangtua kita keluarkan untuk membesarkan kita.
Mereka tidak ingin kita mengembalikannya, mereka hanya ingin melihat kita
sukses dan bahagia. Namun sebagai anak kesuksesan dan kebahagian itu tiada
tanpa adanya peran orangtua. Janganlah merasa paling pintar dan congkak atas
apa yang sudah kita dapatkan saat ini! Dan jangan pernah menyalahkan orangtua! Karena
sampai kapanpun merekalah yang terbaik dalam hal apapun.
Saat yang paling mengerikan adalah saat dimana kita
harus menyadari bahwa waktu bersama-sama orangtua kita sebentar lagi akan
sangat sedikit, dengan bertambahnya tanggung jawab dipundak kita. Saat dimana
kita jauh dari mereka dan hanya dapat berkomunikasi jarak jauh, dan saat sekian
lama kita tidak bertemu mereka dan saat kita bertemu kita mendapati mereka
kedua orang yang paling kita cintai sudah semakin bertambah tua dan terbatas
aktifitasnya.
Captain said "I promise, this is my last semester and this year also I'll graduate with my first title".
No comments:
Post a Comment