Saturday, 12 January 2013

Belum ada judul


Adzan subuh pun berkumandang pagi ini, perlahan cahaya matahari masuk melewati selah-selah jendela. Sekejap mata Kapten terpejam karena silau hehe. Kehidupan negeri semut menjadi berubah diiringi dengan datangnya suasana final exam,malam menjadi siang dan siangpun menjadi malam. Adzan Subuh adalah bell tidur penghuni negeri semut dan adzan Dzuhur menjadi alarm untuk bangun.

 Sejenak Kapten terpejam, tiba-tiba terbesit cerita masa kecil dimana Kapten tumbuh dan  berkembang. Terlintas dalam benaknya  5 orang sekawan yang selalu bersama beebagi suka maupun duka. Tanpa disadari mereka pun telah tumbuh dewasa seiring jalannya waktu. Masa – masa dimana mereka bermain bersama dan bersenda gurau telah berlalu menjadi kenangan yang tak terlupakan. Lima orang sekawan itu adalah Jomad, Ole, Bagol, Agung, dan Galih. Mereka tinggal di sebuah desa yang mempunyai harmony alam yang indah dan asri, juga nada-nada masyarakat mayor & minor yang menyempurnakan Lagu kehidupan. Mereka bangga menjadi orang desa dengan semangat gotong royong yang masih terasa, rasa saling tolong menolong tanpa pamrih, dan jauh dari pengaruh budaya luar.
Teringat diwaktu duduk dibangku sekolah dasar dimana mereka menimba ilmu dari kelas 1-6. Apakah kalian masih ingat masa-masa itu? Dengan seragam putih merah kita dengan wajah polos tanpa dosa.Pengalaman yang paling berkesan adalah kebiasaan mereka saat bel istirahat berbunyi , seluruh murid lelaki langsung berebutan keluar kelas untuk menuju satu tujuan yaitu toilet rusak yang dijadikan sarang ayam untuk bertelur. Jadi tahu kan sekarang tempat tujuan mereka adalah toilet rusak dan tujuan mereka berlomba-lomba lari adalah untuk mendapatkan telor ayam. Siapa cepat dia dapat, langsung ditenggak metah-mentah kuning telor ayam tersebut. Suegerrrrrnya rekkkkkk

Masa itupun sirna sejauh mata memandang apadaya tangan tak sampai....

Singkat cerita mereka melanjutkan sekolah di SMP dan SMA yang berbeda. Namun mereka masih tetap berkumpul dalam kehidupan sehari-hari. Mereka berlima bisa dibilang banyak dikenal orang di desanya dengan bakat badminton yang mereka miliki. Banyak perlombaan Badminton yang mereka menangkan, dari lomba antar RT, lomba terbuka, dan juga lomba dengan membawa nama desanya pun mereka mendapat juara. Definisi juara yang tertanam diri mereka adalah Juara pertama, apabila hanya mendapat peringkat kedua atau ketiga mereka tidak menyebutnya sebagai juara. Hebat memang prinsip yang dimiliki 5 sekawan tersebut. Untuk meraih sesuatu memanglah tidak semudah membalikan telapak tangan. Seperti 5 sekawan ini, untuk mendapatkan Juara dalam perlombaan badminton sangatlah menarik perjuangan mereka. Mereka mulai bermain badminton hanya menggunakan papan kayu yang dibentuk seperti raket hasil karya mereka. Suttlekock yang digunakan pun suttlekock yang mereka dapatkan setiap pagi di gedung olahraga ( kock bekas). Dan bunyi cetak cetok cetak cetok lah yang timbul saat kepala kock menyetuh raket kayu.

Kelima sekawan dengan keterbatasannya pun mampu untuk meraih sesuatu yang mereka inginkan, apakah kita yang serba berkecukupan tidak malu apabila kita tidak mampu untuk meraih cita-cita kita?

Seiring jalannya waktu mereka pun dapat membeli raket badminton yang sesungguhnya, dari uang saku yang mereka sisihkan. Karena peminat badminton semakin banyak di desa itu, akhirnya warga memutuskan untuk bergotong royong membangun sebuah lapangan badminton. Jangan kalian bayangkan bahwa lapangan badminton yang mereka buat sama seperti lapangan sewajarnya. Dengan dana yang sangat minimum, warga di desa itu hanya dapat membuat lapangan yang masih beralaskan tanah dan untuk garis pinggirnya menggunakkan bambu. Apakah kalian pernah bermain badminton menggunakan raket kayu dilapangan tanah dan bergariskan bambu? Taufik Hidayat pun mungkin belum pernah dan enggan. Hehehe

Namun berawal dari semua itulah kelima sekawan itu dapat bermain badminton dan mempunyai kemampuan yang lebih dibanding anak sebaya lainnya. Terlintas dalam pikiran mereka untuk menjadi seorang atlit nasional yang dapat mengarumkan nama negaranya. Namun keinginan tinggalah keinginan, selepas lulus dari sekolah menengah atas mereka mempunyai kewajiban dan tanggung jawab yang harus di penuhi. Terhimpit biaya hidup yang semakin hari semakin meningkat, dan orang tua mereka pun bertambah umur. Mereka harus bertahan hidup dengan jalannya masing-masing. Jomad yang tergolong berkecukupan harus melanjutkan kuliahnya dinegeri Jiran, Agung dapat melanjutkan kuliahnya dengan kerja keras orang tuanya, Bagol dengan kegigihannya dia dapat meneruskan usaha ayahnya membuka warung makan, Ole dengan ijasah STMnya dapat bekerja menjadi teknisi di sebuah cafe, dan Galih karena dihampiri masalah biaya memutuskan untuk putus kuliah dan bekerja di perusahaan swasta. Mereka tidak pernah saling iri dengan keadaan mereka masing-masing, hingga sekarang mereka masih akrab menjadi teman, sahabat, dan juga bisa disebut sebagai keluarga. Kaptens said “Friendship is the most expensive thing “.

 Cerita diatas hanya sekelebet kenangan Kapten yang ingin ungkapkan sebagai bentuk rindu kepada tanah air dan kampung halaman. #grin



No comments:

Post a Comment