Adzan
subuh pun berkumandang pagi ini, perlahan cahaya matahari masuk melewati
selah-selah jendela. Sekejap mata Kapten terpejam karena silau hehe. Kehidupan
negeri semut menjadi berubah diiringi dengan datangnya suasana final exam,malam
menjadi siang dan siangpun menjadi malam. Adzan Subuh adalah bell tidur
penghuni negeri semut dan adzan Dzuhur menjadi alarm untuk bangun.
Sejenak Kapten terpejam, tiba-tiba terbesit cerita masa kecil dimana Kapten tumbuh dan
berkembang. Terlintas dalam benaknya 5 orang sekawan yang selalu bersama beebagi
suka maupun duka. Tanpa disadari mereka pun telah tumbuh dewasa seiring
jalannya waktu. Masa – masa dimana mereka bermain bersama dan bersenda gurau telah
berlalu menjadi kenangan yang tak terlupakan. Lima orang sekawan itu adalah
Jomad, Ole, Bagol, Agung, dan Galih. Mereka tinggal di sebuah desa yang
mempunyai harmony alam yang indah dan asri, juga nada-nada masyarakat mayor &
minor yang menyempurnakan Lagu kehidupan. Mereka bangga menjadi orang desa
dengan semangat gotong royong yang masih terasa, rasa saling tolong menolong
tanpa pamrih, dan jauh dari pengaruh budaya luar.
Teringat
diwaktu duduk dibangku sekolah dasar dimana mereka menimba ilmu dari kelas 1-6.
Apakah kalian masih ingat masa-masa itu? Dengan seragam putih merah kita dengan
wajah polos tanpa dosa.Pengalaman yang paling berkesan adalah kebiasaan mereka
saat bel istirahat berbunyi , seluruh murid lelaki langsung berebutan keluar
kelas untuk menuju satu tujuan yaitu toilet rusak yang dijadikan sarang ayam
untuk bertelur. Jadi tahu kan sekarang tempat tujuan mereka adalah toilet rusak
dan tujuan mereka berlomba-lomba lari adalah untuk mendapatkan telor ayam.
Siapa cepat dia dapat, langsung ditenggak metah-mentah kuning telor ayam
tersebut. Suegerrrrrnya rekkkkkk
Masa
itupun sirna sejauh mata memandang apadaya tangan tak sampai....
Singkat
cerita mereka melanjutkan sekolah di SMP dan SMA yang berbeda. Namun mereka
masih tetap berkumpul dalam kehidupan sehari-hari. Mereka berlima bisa dibilang
banyak dikenal orang di desanya dengan bakat badminton yang mereka miliki.
Banyak perlombaan Badminton yang mereka menangkan, dari lomba antar RT, lomba
terbuka, dan juga lomba dengan membawa nama desanya pun mereka mendapat juara.
Definisi juara yang tertanam diri mereka adalah Juara pertama, apabila hanya
mendapat peringkat kedua atau ketiga mereka tidak menyebutnya sebagai juara. Hebat
memang prinsip yang dimiliki 5 sekawan tersebut. Untuk meraih sesuatu memanglah
tidak semudah membalikan telapak tangan. Seperti 5 sekawan ini, untuk
mendapatkan Juara dalam perlombaan badminton sangatlah menarik perjuangan
mereka. Mereka mulai bermain badminton hanya menggunakan papan kayu yang
dibentuk seperti raket hasil karya mereka. Suttlekock yang digunakan pun
suttlekock yang mereka dapatkan setiap pagi di gedung olahraga ( kock bekas). Dan
bunyi cetak cetok cetak cetok lah yang timbul saat kepala kock menyetuh raket
kayu.
Kelima
sekawan dengan keterbatasannya pun mampu untuk meraih sesuatu yang mereka
inginkan, apakah kita yang serba berkecukupan tidak malu apabila kita tidak mampu
untuk meraih cita-cita kita?
Seiring
jalannya waktu mereka pun dapat membeli raket badminton yang sesungguhnya, dari
uang saku yang mereka sisihkan. Karena peminat badminton semakin banyak di desa
itu, akhirnya warga memutuskan untuk bergotong royong membangun sebuah lapangan
badminton. Jangan kalian bayangkan bahwa lapangan badminton yang mereka buat
sama seperti lapangan sewajarnya. Dengan dana yang sangat minimum, warga di
desa itu hanya dapat membuat lapangan yang masih beralaskan tanah dan untuk
garis pinggirnya menggunakkan bambu. Apakah kalian pernah bermain badminton
menggunakan raket kayu dilapangan tanah dan bergariskan bambu? Taufik Hidayat
pun mungkin belum pernah dan enggan. Hehehe
Namun
berawal dari semua itulah kelima sekawan itu dapat bermain badminton dan
mempunyai kemampuan yang lebih dibanding anak sebaya lainnya. Terlintas dalam
pikiran mereka untuk menjadi seorang atlit nasional yang dapat mengarumkan nama
negaranya. Namun keinginan tinggalah keinginan, selepas lulus dari sekolah
menengah atas mereka mempunyai kewajiban dan tanggung jawab yang harus di
penuhi. Terhimpit biaya hidup yang semakin hari semakin meningkat, dan orang
tua mereka pun bertambah umur. Mereka harus bertahan hidup dengan jalannya
masing-masing. Jomad yang tergolong berkecukupan harus melanjutkan kuliahnya
dinegeri Jiran, Agung dapat melanjutkan kuliahnya dengan kerja keras orang
tuanya, Bagol dengan kegigihannya dia dapat meneruskan usaha ayahnya membuka
warung makan, Ole dengan ijasah STMnya dapat bekerja menjadi teknisi di sebuah cafe,
dan Galih karena dihampiri masalah biaya memutuskan untuk putus kuliah dan
bekerja di perusahaan swasta. Mereka tidak pernah saling iri dengan keadaan
mereka masing-masing, hingga sekarang mereka masih akrab menjadi teman,
sahabat, dan juga bisa disebut sebagai keluarga. Kaptens said “Friendship is
the most expensive thing “.
Cerita diatas hanya sekelebet kenangan Kapten
yang ingin ungkapkan sebagai bentuk rindu kepada tanah air dan kampung halaman.
#grin
No comments:
Post a Comment